Optimalkan Buyback
Wisnu menyatakan perseroan akan terus mengoptimalkan program pembelian kembali atau buyback emas Antam dari masyarakat. Dia menyebut program tersebut turut membantu menjaga keseimbangan pasokan bahan baku di tengah dinamika yang terjadi.
Di sisi lain, Wisnu menegaskan perseroan terus mencermati perkembangan rencana penerapan DMO emas. Dia menyatakan, Antam mendukung program tersebut demi menjaga pasokan emas dari sumber domestik.
“Antam pada prinsipnya mendukung penuh upaya pemerintah dalam memperkuat pasokan emas dari sumber domestik agar ketersediaan produk emas di dalam negeri tetap terjaga,” ungkap dia.
Rencana penerapan DMO emas tengah dikaji oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Dirjen Mineral dan Batu Bara (Minerba) Tri Winarno menyebutkan kebijakan ini dapat bersifat sementara, terutama selama produksi Freeport belum pulih pasca insiden longsor di area tambang GBC.
Dia menjelaskan Antam sebenarnya telah memiliki perjanjian pembelian 30 ton emas per tahun dari Freeport untuk memenuhi kebutuhan normal.
Namun, dengan terganggunya pasokan dari tambang tersebut, Antam masih harus menutup kekurangannya dengan impor dari Singapura dan Australia.
Impor emas Antam tercatat mencapai sekitar 30 ton per tahun, sedangkan kapasitas produksinya hanya sekitar 1 ton dari tambang Pongkor. Menurut catatan Antam, kebutuhan emas masyarakat mencapai 37 ton pada 2024 dan terus naik ke level 43 ton tahun ini.
Kondisi ini menjadi dasar pemerintah mempertimbangkan kebijakan DMO untuk menekan impor dan memperkuat pasokan emas domestik.
Tri mengatakan, kebijakan DMO harus dirancang agar tidak menimbulkan penumpukan stok di dalam negeri, sekaligus menjaga stabilitas industri.
Pemerintah juga tengah menyiapkan evaluasi terhadap kebijakan ekspor Antam, termasuk mekanisme pajak ekspor-impor untuk mengurangi ketergantungan pada emas impor.
(azr/wdh)


























