Perusahaan-perusahaan merespons tarif tinggi AS dengan mencari pasar alternatif atau mengalihkan barang secara tidak langsung ke negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
Ekspor ke Uni Eropa naik lebih dari 14%, tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, dan ekspor ke Afrika melonjak 56%. Pengiriman ke blok perdagangan 10 negara Asia Tenggara tumbuh hampir 16%.
Kuatnya permintaan dari pasar selain AS berarti perusahaan China seharusnya tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan tarif lebih lanjut yang diancam Presiden Donald Trump. Penjualan di luar negeri yang tinggi juga memberikan dorongan bagi ekonomi domestik yang sedang mengalami deflasi dan masih berjuang untuk membalikkan penurunan permintaan dan harga properti.
China akan mengumumkan data aktivitas ekonomi kuartal ketiga pada 20 Oktober. Sebagian besar analis memprediksi perlambatan dibandingkan paruh pertama tahun ini. Namun, kinerja kuat pada dua kuartal pertama hampir memastikan China akan mencapai target pertumbuhan resmi sekitar 5%.
Apa Kata Bloomberg Economics...
"Perundingan dagang memasuki fase baru yang penuh gejolak. Jalan menuju kesepakatan kini panjang dan sempit. AS kini bisa lebih fokus pada China, setelah mencapai kesepakatan dagang dengan negara-negara ekonomi besar lainnya. Kedua belah pihak siap menghadapi eskalasi."
— Chang Shu dan David Qu.
Impor tumbuh 7,4% pada September, jauh lebih tinggi dari perkiraan, meninggalkan surplus sebesar US$90,5 miliar.
"Lingkungan eksternal saat ini masih suram dan kompleks," ujar Wang Jun, Wakil Kepala Otoritas Bea Cukai, kepada wartawan di Beijing. "Perdagangan luar negeri menghadapi ketidakpastian dan kesulitan yang semakin meningkat. Mengingat basis yang tinggi dari tahun lalu, kita perlu bekerja keras untuk menstabilkan perkembangan perdagangan pada kuartal keempat."
China memperluas kontrol ekspor global terhadap produk-produk yang mengandung logam tanah jarang tertentu pekan lalu. Hal ini memicu Trump membalas dengan mengancam akan membatalkan pertemuan tatap muka dengan Presiden Xi Jinping yang direncanakan—pertemuan pertama mereka dalam enam tahun.
Pemimpin AS itu juga mengumumkan rencana akan memberlakukan tarif tambahan 100% pada barang-barang China, serta memperketat pembatasan terhadap "semua perangkat lunak penting."
Pemerintahan Trump kemudian mengisyaratkan terbuka untuk mencapai kesepakatan dengan China guna meredakan ketegangan perdagangan baru, sekaligus memperingatkan bahwa kontrol ekspor yang baru-baru ini diumumkan Beijing merupakan hambatan utama bagi perundingan.
Bloomberg Economics memperkirakan kenaikan tarif AS sebesar 100% akan mengerek tarif efektif untuk barang-barang China menjadi sekitar 140%—level yang akan menghentikan perdagangan. Meski tarif saat ini 25 poin persentase di atas rata-rata dunia, dominasi China di bidang manufaktur menjaga ekspornya tetap mengalir.
"Eskalasi yang berkelanjutan bisa memperpanjang deflasi China, yang berpotensi memicu upaya penyesuaian kebijakan lebih lanjut," ujar ekonom Morgan Stanley yang dipimpin Robin Xing dalam laporannya sebelum data dirilis.
"Dalam skenario pembatasan ketat logam tanah jarang China dan kenaikan tarif AS sebesar 100% berkelanjutan, pertumbuhan ekspor China akan melambat dengan cepat akibat guncangan tarif langsung dan gangguan rantai pasokan global."
(bbn)




























