Secara teknikal, emas sejatinya berpeluang dapat naik lebih tinggi lagi, di zona bullish. Tercermin dari chart Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 86. RSI di atas 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bullish.
Adapun target kenaikan terdekat harga emas ada di US$ 4.025/troy ons. Jika berhasil break, maka ada kemungkinan harga emas naik lagi menuju US$ 4.091/troy ons. Sementara support nya saat ini adalah US$ 3.950/troy ons yang merupakan MA–5.
Goldman Sachs Group Inc. pun turut memasang posisi bullish terhadap emas. Dalam proyeksi terbarunya, Goldman Sachs memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$ 4.900/troy ons pada Desember 2026. Jauh lebih optimistis dari riset sebelumnya yang ditargetkan mencapai US$ 4.300/troy ons.
Harga Saham Emiten Emas Melejit
Mencermati lebih lanjut, menguatnya harga emas dunia ini berkorelasi positif dengan laju harga saham emiten emas dan juga pada kinerja laporan keuangannya yang terapresiasi.
Jika berkaca pada laporan keuangan salah satu emiten, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan sumber daya mineral yaitu emas.
Peningkatan produksi emas dan kenaikan harga jual emas, berdampak positif terhadap kinerja keuangan BRMS secara keseluruhan pada Semester I–2025.
Adapun emiten lainnya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada Semester I–2025 produk emas menjadi kontributor terbesar penjualan ANTM dengan proporsi mencapai 84% terhadap total pendapatan perusahaan.
Tren positif tersebut juga terlihat pada pergerakan harga saham. Sebagai gambaran, saham BRMS saat ini ada di level Rp950/saham, terjadi kenaikan mencapai 2,71%. Saham ANTM juga melaju dalam tren positif di level Rp3.250/saham, dan kenaikannya mencapai 3,51%.
Kenaikan harga saham juga terjadi pada emiten lainnya, seperti saham PT J Resources Asia Pasific Tbk (PSAB) yang berhasil menguat 5,98% ke harga Rp620/saham.
Menyusul rekan-rekannya, saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) juga menguat lebih tinggi mencapai 11,11% ke harga Rp1.150/saham. Saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menguat 5,88% ke harga Rp1.080/saham.
Sebagai tambahan, ARCI merupakan perusahaan yang memiliki 100% kepemilikan di Tambang Emas Toka Tindung, suatu tambang pure–play emas. Sedangkan HRTA merupakan perusahaan perdagangan perhiasan emas yang berpengalaman lebih dari 20 tahun.
Pencapaian harga emas yang lagi–lagi menembus harga tertinggi sepanjang masa menjadi tonggak bersejarah bagi emas, yang dua tahun lalu masih diperdagangkan pada harga US$2.000/troy ons — pagi hari ini, 8 Oktober, harga emas berhasil mencatatkan imbal hasil yang melampaui performa pasar saham sepanjang abad ini.
Sepanjang tahun ini saja, harga emas telah melejit lebih dari 50%, seiring meningkatnya ketidakpastian mengenai perdagangan global, independensi The Federal Reserve, dan stabilitas fiskal Amerika Serikat.
Selain itu, ketegangan geopolitik yang kian memanas turut meningkatkan permintaan terhadap aset-aset aman, sementara bank–bank sentral dunia terus membeli emas dalam jumlah besar, memperkuat tren reli yang luar biasa ini.
Mengutip Bloomberg News, “Alasan investor membeli emas — dan seharusnya membeli emas — adalah karena fungsi diversifikasinya,” papar Stephen Miller, Penasihat Strategi Investasi di GSFM.
Menurutnya, sentimen ini baru memasuki tahap permulaan, dan emas akan semakin diterima sebagai bagian penting dari perilaku investasi yang bijak.
Ia menambahkan, harga emas berpotensi menembus US$4.500/troy ons pada pertengahan tahun depan.
(fad/aji)

























