Sementara target support terdekat adalah Rp 16.580/US$. Jika tertembus, support lanjutan ada di Rp 16.600/US$ sampai dengan Rp 16.640/US$.
Support psikologis adalah Rp 16.700/US$.
Penguatan rupiah rasanya akan dibatasi oleh dolar AS yang masih menunjukkan ketangguhan. Kemarin, Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,39% ke 98,108.
Pagi hari ini, Dollar Index lanjut menguat mencapai 0,48% mencapai 98,698.
Dolar AS menguat untuk hari kedua berturut-turut, di tengah berlanjutnya kebuntuan politik di Washington.
Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah masih melemah tetapi relatif terbatas. Untuk tenor satu bulan, rupiah di pasar NDF dijual Rp 16.613/US$ sampai dengan Rp 16.629/US$.
“Hari ini saya melihat dolar AS mengalami rebound setelah sebelumnya melemah,” papar Ning Sun, Senior Emerging Markets Strategist di State Street Global Markets, Boston, mengutip Bloomberg.
“Tidak adanya data baru dari AS memang memperpanjang situasi ‘goldilocks’ bagi pasar emerging markets. Namun, jika penutupan pemerintahan berlangsung terlalu lama, risiko resesi di AS bisa meningkat — dan itu tidak baik bagi pasar negara berkembang.”
Sementara itu, melansir Bloomberg News, permintaan terhadap obligasi pemerintah Indonesia melonjak ke level tertinggi dalam dua bulan, seiring pemerintah berhasil menjual surat utang senilai Rp28 triliun dalam lelang pada Selasa (8/10/2025) — melampaui target indikatif Rp23 triliun.
Total penawaran masuk mencapai Rp126,16 triliun, mencerminkan rasio bid–to–target sebesar 5,5 kali, tertinggi sejak lelang 12 Agustus, berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg.
Lonjakan minat investor ini menunjukkan sentimen positif terhadap aset rupiah, di tengah ekspektasi Bank Indonesia akan melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter dan prospek imbal hasil yang menarik di pasar obligasi dalam negeri.
(fad/aji)



























