Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah saham yang menguat tajam dan menjadi top gainers antara lain saham PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) yang melejit 34,9%, saham PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI) yang melesat 34,7%, dan saham PT Martina Berto Tbk (MBTO) yang terbang 32,3%.

Kemudian saham–saham yang melemah dalam dan menjadi top losers di antaranya saham PT Lion Metal Works Tbk (LION) yang ambles 15%, saham PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) yang jatuh 14,5%, dan saham PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBPE) yang tumbang 14,5%.

Bursa Saham Asia kompak menapaki jalur penguatan. Pada tutup perdagangan, NIKKEI 225 (Tokyo), Weighted Index (Taiwan), Topix (Jepang), PSEi (Filipina), SETI (Thailand), Straits Times (Singapura), dan SENSEX (India) yang berhasil menguat masing-masing 1,85%, 1,45%, 1,35%, 1,14%, 0,41%, 0,38%, dan 0,29%.

Sedang, hanya Hang Seng (Hong Kong), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), dan KLCI (Malaysia) yang masing melemah masing–masing 0,54%, 0,42%, dan 0,17%.

Adapun Bursa Asia berhasil melaju positif senada dari yang terjadi di Bursa Saham Amerika Serikat. Pada penutupan dini hari tadi, Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 finish di zona hijau bagi keduanya, dengan keberhasilan menguat 0,17% dan 0,06%.

Jauh lebih unggul, Nasdaq Composite berhasil menguat mencapai 0,39%.

“Indeks di Wall Street ditutup menguat pada level tertinggi baru pada perdagangan Kamis Investor cenderung mengabaikan government shutdown yang sudah memasuki hari kedua,” mengutip riset Phintraco Sekuritas, Jumat.

Katalisnya, perusahaan di AS menurunkan rencana pertambahan tenaga kerja pada September lalu dan mengumumkan lebih sedikit PHK, menurut data dari perusahaan outplacement Challenger, Gray and Christmas.

Sepanjang bulan lalu, perusahaan mengumumkan rencana menambah 117.313 pekerjaan, turun 71% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut menjadi yang terendah untuk bulan September sejak 2011. Laporan yang dirilis Kamis juga menyoroti perlambatan signifikan dalam rencana pertambahan tenaga kerja musiman dibandingkan tahun–tahun sebelumnya.

Dari Januari hingga September, perusahaan berbasis di AS hanya mengumumkan rencana penambahan hampir 205.000 pekerjaan— terlemah sejak 2009.

Laporan ini menggambarkan kondisi pasar tenaga kerja AS yang saat ini terbatas baik dari sisi perekrutan maupun pemecatan.

Dalam kondisi penutupan pemerintahan (government shutdown) yang membuat sebagian data resmi tertunda, ekonom dan pembuat kebijakan diprediksi akan lebih mengandalkan laporan privat seperti dari Challenger untuk membaca situasi pasar tenaga kerja maupun ekonomi secara lebih luas.

“Sekarang kita berhadapan dengan pasar tenaga kerja yang stagnan, kenaikan biaya, serta teknologi baru yang transformatif,” kata Andy Challenger, Wakil Presiden Senior di Challenger, Gray and Christmas, dalam pernyataan resminya. 

“Dengan adanya pemangkasan suku bunga, mungkin akan ada stabilisasi di pasar kerja pada Kuartal keempat. Namun, faktor lain masih bisa membuat perusahaan menahan perekrutan atau tetap merencanakan PHK.”

Data tersebut membuat investor bersiap menghadapi angka inflasi yang akan dirilis. Laporan tersebut akan membantu menentukan arah pertemuan The Fed minggu depan serta ruang lingkup pelonggaran hingga tutup tahun 2025.

Sampai dengan saat ini, pasar uang hampir sepenuhnya memproyeksikan tiga pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, standarnya tinggi untuk Indeks Harga Produsen dan Konsumen.

(fad/aji)

No more pages