“Jadi mungkin kita tunggu saja nanti sore ya. Info yang lebih pasti lagi mengenai kesepakatan yang ada,” tuturnya.
Sebelumnya, Pertamina telah mendatangkan kargo base fuel tahap pertama sejumlah 100.000 barel pekan lalu. Pengadaan tersebut ditujukan untuk menambal kebutuhan BBM jenis bensin dari operator SPBU swasta yang tengah mengalami kekosongan.
Pada awalnya, PT Vivo Energi Indonesia menyatakan komitmen untuk menyerap 40.000 barel dari impor tahap pertama tersebut.
Namun, dalam perkembangannya, Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Achmad Muchtasyar—dalam rapat bersama Komisi XII DPR pada Rabu (1/10/2025) — mengungkapkan operator SPBU Vivo itu membatalkan niat belinya lantaran BBM dasaran yang didatangkan Pertamina tidak memenuhi kriteria akibat mengandung etanol 3,5%.
Ketentuan dari Ditjen Migas Kementerian EDM, padahal, membolehkan kandungan etanol hingga 20% dalam bahan bakar minyak.
Dipakai Pertamina
Menanggapi hal tersebut, Laode mengatakan 100.000 barel BBM dasaran yang telanjur diimpor Pertamina pada tahap pertama—tetapi tidak laku terjual ke SPBU swasta — akan digunakan secara internal oleh perusahaan pelat merah tersebut.
“Kalau base fuel tetap terpakai ya. Makanya kan disampaikan bahwa kelangkaan itu tidak akan terjadi. Kenapa? Karena kan sebenarnya ada, cuma [SPBU] yang satunya ada maunya [persyaratan kriterianya],” kata Laode.
Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan PPN Roberth MV Dumatubun tidak menampik base fuel sebanyak 60.000 barel dari total 100.000 barel kargo impor tahap pertama yang ditawarkan oleh kepada BU hilir migas akhirnya dipakai sendiri oleh perseroan, imbas tidak kunjung ada kesepakatan pembelian dari SPBU swasta selain oleh Vivo.
“Kargo yang tidak terserap 60.000 barel dipakai Pertamina saat ini,” kata Roberth saat dihubungi, Selasa (30/9/2025).
Roberth menyatakan Pertamina tidak bisa menunggu lama hingga SPBU swasta memutuskan pembelian base fuel tersebut. Apalagi, nantinya akan ada tambahan biaya logistik pengangkutan BBM impor tersebut.
“Ini ibarat kita kirim barang pakai jasa mobil box, nah dia hanya antar saja. Kalau disuruh menunggu, jangan nurunin barang dulu, beberapa hari ya pasti ada tambahan biaya untuk sewa mobil box-nya ya,” tutur Roberth.
Roberth mengungkapkan Pertamina menyediakan base fuel impor bagi BU swasta sebanyak 100.000 barel untuk tahap pertama. Volume tersebut sejatinya merupakan bagian dari sisa kuota BBM impor milik Pertamina. Namun, jika tidak terserap, maka BBM dasar itu akan digunakan oleh Pertamina.
Sekadar catatan, lima BU hilir migas swasta yang terlibat dalam proses negosiasi tersebut, yaitu; PT Aneka Petroindo Raya (BP-AKR), PT Vivo Energy Indonesia (Vivo), PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (Mobil), PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA), dan PT Shell Indonesia (Shell).
Berdasarkan data Kementerian ESDM, Pertamina Patra Niaga masih memiliki sisa kuota impor sebesar 34% atau sekitar 7,52 juta kiloliter (kl) untuk 2025.
Sementara itu, PPN menyebut operator SPBU swasta membutuhkan tambahan pasokan BBM dengan RON 92 sebanyak 1,2 juta barel base fuel, serta RON 98 sejumlah 270.000 barel base fuel untuk mencukupi kebutuhan hingga akhir tahun ini.
(wdh)





























