Logo Bloomberg Technoz

“Bayangkan kalau mobil hardtop itu dibuat tangkinya double ya cuma 200 liter 300 liter kadang-kadang bisa 1 ton disitu habis itu ngantre dikeluarkan kayak orang yang mau beli,” ujar Bahlil.

Bahlil menjelaskan, praktik tersebut biasanya dilakukan agar BBM bersubsidi tersebut bisa digunakan untuk pelaku industri.

“Daripada kita fokus kayak gitu mendingan kita tata baik dan kita fokus kasih BBM subsidi kepada nelayan dengan model satu harga dari Aceh sampai Papua,” tegas Bahlil.

Serapan Pertalite

Untuk diketahui, BPH Migas mengungkapkan konsumsi Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite per September 2025 mencapai 61% dari total kuota yang dialokasikan sebesar 31,2 juta kiloliter (kl).

Sementara itu, pasokan Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar telah disalurkan sebesar 65,54% terhadap total kuota 18,8 juta kl hingga bulan ini.

Anggota Komite BPH Migas Saleh Abdurrahman menjelaskan data realisasi tersebut dihimpun oleh lembaganya hingga 4 September 2025.

Lebih lanjut, Saleh memastikan akan terus menjaga kuota BBM bersubsidi tersebut agar mencukupi hingga akhir tahun ini.

“Soal fluktuasi konsumsi dipengaruhi banyak faktor termasuk seasonal, juga faktor optimalisasi digitalisasi subsidi tepat,” kata Saleh melalui pesan singkat, pertengahan September.

Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga melaporkan bahwa sepanjang kuartal I-2025 realisasi penyaluran JBKP Pertalite sampai dengan akhir Maret 2025 mencapai 6,84 juta kl atau 21,9% dari kuota 2025.

Sementara itu, serapan JBT Solar mencapai 4,19 juta kl atau 22,9% dari kuota 2025.

Adapun, perusahaan pelat merah itu juga sempat memproyeksikan konsumsi Pertalite berada dalam rentang 32,1 juta kl hingga 32,2 juta kl pada 2025.

Sejalan dengan itu, konsumsi Solar diproyeksikan sebesar 18,6 juta kl hingga 18,7 juta kl, sementara minyak tanah atau kerosene adalah 525.000 kl hingga 527.000 kl pada 2025.

Sekadar catatan, pemerintah menetapkan anggaran subsidi energi sebesar Rp203,4 triliun dalam APBN 2025, turun dari rencana awal senilai Rp204,5 triliun.

Dari pagu tersebut, alokasi untuk subsidi BBM dipatok sebanyak Rp26,7 triliun, sedangkan LPG 3kg Rp87 triliun. Sementara itu, subsidi listrik dijatah Rp89,7 triliun.

Dari sisi volume, kuota BBM bersubsidi tahun ini ditetapkan sebanyak 19,41 juta kl, turun dari pagu tahun 2024 sebanyak 19,58 juta kl.

Perinciannya, jenis bahan bakar tertentu Solar sebanyak 18,89 juta kl dan minyak tanah 0,52 juta kl.

Kuota Solar hanya turun tipis dari pagu APBN 2024 sebanyak 19 juta kl, sedangkan volume minyak tanah dipangkas dari 0,58 juta kl.

Adapun, total pagu BBM bersubsidi dalam APBN 2024 adalah sebanyak 19,58 juta kl dengan outlook realisasi sebanyak 18,19 juta kl.

(azr/naw)

No more pages