Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, perwakilan PT Vivo Energi Indonesia menyatakan stok BBM jenis bensin milik Vivo sudah habis pada bulan ini. Adapun, manajemen Vivo tersebut menyatakan perusahaan saat ini mengoperasikan sekitar 44 SPBU di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Akhir Bulan

Lain sisi, Presiden Direktur BP-AKR Vanda Laura menyatakan saat ini hanya terdapat 1 hingga 2 SPBU yang masih menjual BBM jenis bensin. Vanda memprediksi, perusahaannya akan mengalami kekosongan pasokan secara menyeluruh pada akhir bulan Oktober 2025.

“Saat ini hanya tinggal mungkin sekitar 1—2 SPBU kami saja yang masih menjual BBM gasoline atau bensin. Mungkin sampai akhir bulan ini [pasokan habis],” ucap Vanda dalam kesempatan yang sama.

Selain itu, Deputy CEO PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) Mery Sofi mengungkapkan cadangan solar milik perusahaan masih tersedia untuk 17 hari ke depan. Sementara itu, BBM jenis bensin, dia menegaskan sudah tak terdapat pasokan yang tersedia saat ini.

“Boleh dibilang sudah, bensin itu sudah tidak ada. Jadi demikian kami berharap kami bisa segera mendapatkan solusi untuk kerjasama bagaimana segera mengisi kekosongan,” ucap Mery dalam kesempatan itu.

Dalam kaitan itu, BP-AKR melaporkan memiliki sekitar 107 SPBU yang beroperasi hingga saat ini. Rencananya, akan terdapat 10 SPBU tambahan yang dibangun tahun ini, tetapi hal tersebut masih terhambat kendala pasokan BBM yang terjadi.

Sementara itu, Vice President Business Support & External Affairs PT ExxonMobil Lubricants Indonesia Arumi Wikanti mengungkapkan, saat ini perusahaan memiliki 1.200 titik pom mini Mobil yang tersebar di Pulau Jawa.

Dia menyebut, pasokan BBM jenis bensin RON 92 milik perusahaan masih mencukupi hingga pertengahan kuartal IV-2025.

“Stok BBM RON 92 untuk pom mini saat ini cukup hingga pertengahan kuartal IV-2025,” ujar Arumi dalam kesempatan itu.

Sebelumnya, pemerintah mempersingkat durasi izin impor BBM oleh BU swasta menjadi 6 bulan dari biasanya 1 tahunan. Dalam durasi yang singkat tersebut, SPBU swasta diberi kuota impor periode 2025 sebanyak 10% lebih banyak dari realisasi tahun lalu.

Dalam perkembangannya, saat realisasi impor telah terpenuhi lebih cepat akibat tingginya permintaan BBM di SPBU swasta, Kementerian ESDM menolak untuk memberikan tambahan rekomendasi kuota impor, sehingga menyebabkan gangguan pasok di hampir seluruh jaringan SPBU swasta.

Sebagai jalan tengah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengambil kebijakan agar pemenuhan kebutuhan BBM untuk SPBU swasta akan dilakukan oleh Pertamina melalui impor dalam format base fuel, atau BBM dasaran tanpa ada campuran bahan aditif.

“Perlu saya sampaikan bahwa kepada teman-teman swasta, itu telah diberikan kuota impor sebesar 110% dibandingkan dengan 2024. Artinya kuota ini diberikan secara normal, ini sudah diberikan. Namun, ada kondisi di mana 110% yang diberikan itu habis sebelum selesai akhir 31 Desember,” kata Bahlil, Jumat (19/9/2025).

Nah, atas dasar itu pemerintah membuat keputusan untuk tetap dilayani, tetapi itu akan diberikan lewat kolaborasi dengan Pertamina.”

Dalam perkembangannya, Wamen ESDM memastikan operator SPBU swasta sudah boleh kembali mengimpor minyak mentah untuk bahan bakar minyak (BBM) masing-masing mulai 2026.

Yuliot mengatakan saat ini pun pemerintah akan mengevaluasi kebijakan impor base fuel 'satu pintu' hanya melalui PT Pertamina (Persero) untuk ditawarkan kepada SPBU  swasta yang kekurangan stok bensin.

Dia pun memastikan BU swasta nantinya tidak akan terus-menerus membeli base fuel ke Pertamina karena pada tahun depan dapat langsung mengimpor minyak mentah (crude) sesuai kuota yang akan diberikan oleh pemerintah.

“Jadi, tidak seterusnya. Jadi nanti akan ada alokasi untuk masing-masing badan usaha. Jadi, berdasarkan alokasi, badan usaha akan melakukan impor sendiri,” tuturnya saat ditemui di Wisma Danantara, Selasa (30/9/2025).

Sekadar catatan, Pertamina Patra Niaga mengungkapkan bahwa hingga akhir tahun operator SPBU swasta membutuhkan total 1,2 juta barel base fuel dengan nilai oktan (RON) 92 dan 278.000 barel base fuel dengan nilai oktan 98.

(azr/wdh)

No more pages