Laporan ADP menunjukkan jumlah tenaga kerja di perusahaan AS turun secara tak terduga pada September, konsisten dengan data lain selama sebulan terakhir yang menunjukkan pasar tenaga kerja sedang melambat. Hal ini mendorong pelaku pasar menambah taruhan pada dua kali pemotongan suku bunga Fed lagi tahun ini.
Menurut Institute for Supply Management, aktivitas manufaktur AS menyusut pada September untuk bulan ketujuh berturut-turut.
Laporan JOLTS pada Selasa mengisyaratkan bahwa permintaan tenaga kerja sedang melambat, memberikan gambaran singkat tentang pasar tenaga kerja pada saat data nonfarm payrolls (NFP) dari Biro Statistik Tenaga Kerja mungkin akan tertunda.
Dengan semua informasi ini, beberapa investor tidak yakin bahwa ketidakadaan laporan Jumat akan menggagalkan The Fed.
"Kami yakin bahwa meski laporan NFP September tidak dapat dipublikasikan sebelum rapat The Fed, para pejabat akan memiliki cukup informasi tentang pasar tenaga kerja untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin sebagai 'asuransi' pada rapat Oktober," kata Atakan Bakiskan, ekonom AS di Berenberg.
Pihak lain juga menganalisis shutdown sebelumnya untuk memastikan bahwa peristiwa semacam ini tidak berlangsung lama dan seringkali membawa dampak makroekonomi yang bisa diabaikan.
"Yang membedakan shutdown ini adalah ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) permanen bagi staf federal non-esensial, yang, meski mungkin hanya bualan politik dan rentan digugat secara hukum, akan memperpanjang dampak negatif terhadap gaji sektor publik," tulis Thomas Ryan, ekonom Amerika Utara di Capital Economics, dalam catatannya.
Pada konferensi pers di Gedung Putih, Rabu, Wakil Presiden JD Vance mengatakan tidak mengantisipasi shutdown yang lama, menambahkan bahwa PHK akan terjadi jika shutdown berlangsung berhari-hari atau berminggu-minggu.
Partai Republik menggunakan taktik keras untuk menekan Partai Demokrat agar menyerah dan mengakhiri shutdown, di mana Direktur Anggaran Gedung Putih Russell Vought berencana segera memecat pegawai federal.
Namun, untuk saat ini, Kepala Strategi Perdagangan Saham AS di Citigroup, Stuart Kaiser memandang shutdown tidak akan merugikan pasar saham.
“Untuk benar-benar mempengaruhi pasar ekuitas, penutupan cukup lama, pemutusan hubungan kerja yang besar, atau sesuatu terjadi di pasar obligasi yang berdampak pada pasar ekuitas,” katanya di Bloomberg Television pada Rabu.
"Agar benar-benar berdampak pada pasar saham, shutdown ini harus berlangsung cukup lama, harus ada PHK yang besar atau sesuatu terjadi di pasar obligasi yang akan berdampak ke pasar saham," ujarnya dalam wawancara dengan Bloomberg Television pada Rabu.
Apa kata Pakar Strategi Bloomberg...
"Musim akhir tahun menguntungkan saham sebagai aset utama AS, sedangkan dolar AS ditakdirkan untuk tertinggal. Tahun ini mungkin akan mengikuti pola tersebut, meski shutdown pemerintah AS menambahkan faktor baru."
— Kristine Aquino, Redaktur Pelaksana Markets Live
Namun, dalam jangka panjang, shutdown akan memperbesar kekhawatiran akan stabilitas kebijakan AS, tulis Lauren Goodwin, ekonom dan kepala strategi pasar di New York Life Investments, dalam catatannya.
"Investor bisa mengikuti aturan sederhana: semakin lama shutdown berlangsung, semakin besar dampaknya terhadap kepercayaan konsumen, aktivitas ekonomi, dan pasar keuangan," ujarnya.
Beberapa pergerakan utama di pasar:
Saham
- Indeks S&P 500 naik 0,3% pada pukul 16.00 waktu New York
- Indeks Nasdaq 100 naik 0,5%
- Indeks Dow Jones Industrial Average relatif stabil
- Indeks MSCI World naik 0,3%
Mata Uang
- Indeks Spot Dolar Bloomberg relatif stabil
- Euro relatif stabil di US$1,1730
- Poundsterling Inggris naik 0,2% menjadi US$1,3479
- Yen Jepang naik 0,5% menjadi 147,10 per dolar
Kripto
- Bitcoin naik 2,4% menjadi US$117.390,42
- Ether naik 3,3% menjadi US$4.334,3
Obligasi
- Imbal hasil Treasury 10 tahun turun lima basis poin menjadi 4,10%
- Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman 10 tahun sedikit berubah menjadi 2,71%
- Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris 10 tahun sedikit berubah menjadi 4,70%
Komoditas
- Minyak mentah West Texas Intermediate turun 0,6% menjadi US$61,97 per barel
- Emas spot naik 0,2% menjadi US$3.867,16 per troy ons
(bbn)




























