Dia menyebut beras fortifikasi tersebut menggunakan anggaran Bapanas, namun Arief tidak memerinci berapa total anggaran bantuan pangan beras fortifikasi tersebut. Namun demikian, Arief menuturkan harga beras fortifikasi lebih tinggi dari beras pada umumnya.
“Itu kan ada selisih sekitar Rp1.500 sampai Rp2.000 dari beras biasa. Jadi kalau beras biasa Rp14.000-Rp15.000, ini mungkin [beras fortifikasi] Rp17.000 gitu ya,” ucap dia.
Di sisi lain, Arief berharap bantuan pangan beras ke depannya dapat menggunakan beras fortifikasi. Hal itu juga pernah dia ungkapkan kepada Kementerian Kesehatan.
“Saya pernah berbicara seperti ini sama Kementerian Kesehatan juga. Misalnya nanti kita bicara ke depan, enggak sekarang, bantuan pangan itu, misalnya ada fortifikasi kan akan lebih bagus,” jelas Arief.
Bapanas sebelumnya menyebut program beras fortifikasi bisa diimplementasikan di seluruh wilayah Indonesia karena akan sangat membantu pemberian nutrisi tambahan. Tak hanya itu, beras fortifikasi juga bisa diimplementasikan untuk program Makan Bergizi Gratis.
Selain itu, kata dia, program ini juga menjadi bagian strategis pembangunan ketahanan pangan nasional dalam RPJMN 2025-2029 dan merupakan inisiatif penting untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045 sebagaimana diarahkan Presiden Prabowo Subianto.
Untuk memastikan mutu dan kualitas beras yang dihasilkan, telah ditetapkan standar kernel beras fortifikasi melalui SNI 9314:2024 dan standar beras fortifikasi melalui SNI 9372:2025 sebagai acuan mutu dan keamanan beras fortifikasi di Indonesia yang perumusannya digawangi oleh Bapanas.
(ain)






























