Menurut Bahlil, keputusan pelarangan ekspor tersebut dilakukan karena logam tanah jarang merupakan komoditas strategis yang harus dikuasai oleh negara.
Dia juga mendorong beberapa wilayah yang belum memiliki izin usaha pertambangan (IUP) akan diprioritaskan untuk dimanfaatkan oleh negara, melalui badan usaha milik negara (BUMN).
“Sekarang kita lagi persiapkan supaya ini benar-benar menjadi komoditas unggulan baru yang bisa memberikan manfaat bagi pendapatan negara,” tuturya.
Sebelumnya, PT Timah Tbk (TINS) melaporkan adanya tantangan dalam pemenuhan pasokan LTJ sesuai spesifikasi.
Perseroan tengah gencar melakukan riset untuk pilot project dalam mengembangkan industri tersebut.
Direktur Pengembangan Usaha TINS Suhendra Yusuf Ratuprawiranegara mengatakan hingga saat ini pengembangan LTJ bukan dari sisi kuantitas, melainkan kualitas mineral tersebut.
"Dari kuantitas bisa terpenuhi misalnya 50 kilogram untuk produksinya per hari, tetapi dari sisi tadi speknya terpenuhi apa tidak, ini yang menurut laporan jajaran di bawah saya masih belum,” kata Suhendra dalam media gathering di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (23/8/2025) malam.
Dia menjelaskan perseroan sejatinya telah memulai proyek percobaan ini sejak 2010.
Namun, persoalan teknologi hingga riset LTJ membuat pilot project di Tanjung Ular Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terkatung-katung selama lebih dari satu dekade.
Menurutnya, ada beberapa persyaratan yang belum terpenuhi oleh perusahaan dari sisi spesifikasi pasokan LTJ, salah satunya dari kandungan fosfat yang merupakan senyawa utama yang mengikat unsur tanah jarang di monasit.
"Ada persyaratan kalau tidak salah itu di 50 ppm [parts per million] terhadap kandungan dari fosfat itu, sementara yang dilakukan oleh PT Timah masih di atas itu, jadi tidak memenuhi syarat," jelasnya.
Terlepas dari masalah spesifikasi, Suhendra meyakini deposit monasit tetap berlimpah, selama pertambangan timah masih berlangsung di Indonesia, baik yang ditemukan dalam bentuk endapan primer maupun sekunder atau aluvial.
Permintaan LTJ
Di sisi lain, Suhendra menuturkan LTJ merupakan komoditas primadona di dunia. Bahkan, melunaknya perang perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China bisa terjadi karena LTJ.
"China itu pengendali pengendali produksi REE di dunia, artinya ketergantungan Amerika terhadap suplai dari REE, dari China itu sangat besar," imbuhnya.
Suhendra melihat kesempatan besar bagi TINS, sebagai perusahaan pertambangan timah yang memiliki potensi cadangan monasit sekitar 25.700 ton di wilayah Bangka Belitung.
“Di sinilah kesempatan yang dilihat oleh pemerintah khususnya Pak Presiden. Kita punya semua kenapa kita tidak kelola dan produksi," jelasnya.
(azr/naw)































