Perusahaan kendaraan otonom asal China gencar berekspansi ke luar negeri, terutama di wilayah yang pemerintahnya terbuka terhadap teknologi masa depan. Biaya kendaraan yang lebih rendah, berkat rantai pasok kendaraan listrik yang maju di China, memberi mereka keunggulan dibandingkan pesaing asal Amerika Serikat seperti Waymo milik Alphabet Inc.
Membaiknya kondisi ekonomi operasi Apollo Go di China menjadi dasar bisnis untuk peluncuran robotaxi massal, kata Niu. Dengan skala operasi yang lebih besar dan kemampuan untuk tak lagi menggunakan pengemudi manusia, beberapa kota tempat Apollo Go beroperasi sudah mencapai titik impas pada tingkat per kendaraan, tidak hanya di Wuhan yang menjadi basis armada terbesar divisi itu.
“Setiap kendaraan bisa menghasilkan keuntungan saat ini. Setiap unit tunggal dapat menguntungkan di beberapa kota di daratan China,” ujar Niu. Namun ia menambahkan, pencapaian profitabilitas bagi Apollo Go secara keseluruhan sebagai sebuah divisi masih memerlukan waktu.
Sejak 2013, Baidu telah menginvestasikan miliaran dolar untuk mengembangkan teknologi kendaraan otonom. Perusahaan telah mengoperasikan lebih dari 1.000 mobil di kota-kota di Tiongkok dan luar negeri. Baru-baru ini Baidu menandatangani kesepakatan dengan platform ride-hailing asal AS, Lyft Inc., untuk masuk ke Eropa mulai tahun depan dengan Inggris dan Jerman sebagai pasar perdana, tergantung persetujuan regulasi.
Niu mengatakan otoritas di Eropa mungkin akan memiliki keraguan awal, terutama terkait penyimpanan data yang dikumpulkan. Data tersebut akan disimpan secara lokal, ujarnya, dan Apollo Go sudah mendaftarkan entitas di Swiss sekaligus merekrut karyawan lokal.
“Begitu pejabat datang ke China untuk melihat apa yang terjadi di satu kota, sebagian kesalahpahaman itu mungkin akan hilang.”
Saat kunjungan ke China pada Juni lalu, Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde mendatangi kampus Apollo Go di Beijing dan sempat menjajal robotaxi di sana.
(bbn)
































