Logo Bloomberg Technoz

Dalam pandangannya, implementasi STEM saat ini harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi pendidikan nasional. Ia berharap kebijakan yang disusun Kemendikdasmen benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

“Situasi dan kondisi nantinya juga harus dihitung kembali terhadap kebijakan pendidikan di lingkungan dasar dan menengah, ingin dibawa seperti apa STEM ini supaya lebih mempunyai manfaat kepada masyarakat. Tentu kami sebagai anggota Komisi X sekali lagi pasti mendukung, apalagi ini untuk kepentingan masyarakat dalam konteks menjawab tantangan di masa yang akan datang,” tambahnya.

Lebih jauh, Ferdiansyah meminta adanya pengintegrasian pemahaman STEM antara Komisi X DPR dan Kemendikdasmen agar memiliki bahasa yang sama saat turun ke daerah.

“Saya ataupun kami juga tolong dibekali, sehingga ketika bicara di daerah pemilihan masing-masing, itu ada bahasa yang sama dalam konteks STEM ini. Tidak ada lagi perbedaan dalam konteks pembahasan, pengertian, dan pemahaman,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pengembangan tema, metode pembelajaran, serta bahan ajar dalam implementasi STEM. Hal itu, menurutnya, harus dilakukan melalui kolaborasi lintas unit di kementerian pendidikan.

“Tema-tema STEM ini harus mencerminkan keragaman bangsa Indonesia. Tidak kalah pentingnya adalah metode pembelajaran, bahan ajar, dan strategi pembelajarannya. Tadi sudah disinggung oleh Pak Toni Toharudin, berarti harus ada benar-benar kolaborasi antara BSKAP, Direktorat Jenderal GTK, dan Direktorat Jenderal PAUD Dikdasmen, serta Vokasi. Artinya, itu benar-benar menyatu untuk menjawab tantangan pembelajaran STEM ini,” pungkas Ferdiansyah.

Menanggapi hal itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Abdul Mu’ti menekankan bahwa STEM pada periode ini berbeda karena bukan sekadar pendekatan pembelajaran, tetapi menjadi bagian integral dari pembangunan karakter.

“Apa sih yang beda STEM yang ada dalam periode kami ini dengan STEM yang ada sebelumnya? Adalah bagaimana STEM itu menjadi bagian integral, bahkan mungkin menjadi bagian inti dan fondasi dalam membangun karakter, membangun perilaku yang utama, sehingga penguasaan sains itu berkorelasi positif dalam pembentukan karakter dan komitmen mereka sebagai warga untuk memajukan masyarakat, memajukan lingkungan di mana mereka berada,” jelasnya.

Abdul Mu’ti menambahkan, penguasaan STEM juga menjadi upaya untuk meningkatkan minat pelajar terhadap ilmu-ilmu alam murni yang saat ini semakin berkurang peminatnya.

“Kalau kita ingin mengembangkan bangsa yang teknokratik, tidak mungkin kalau kemudian peminat sains ini memang masih sangat kurang. Sehingga yang terakhir, kami bersama-sama dengan tim berusaha mengembangkan sejak awal namanya Sains 3M: yang mudah, murah, dan menyenangkan. Itu yang coba kami kembangkan, sehingga ada demistifikasi bahwa sains itu rumit, mahal, padahal kita ingin membangun kultur bahwa sains itu mudah, murah, dan menggembirakan,” pungkas Abdul Mu’ti.

(dec/spt)

No more pages