“Kita berharap sampai dengan akhir tahun, optimum volume bisa di angka 1,18 miliar bcm. Dibandingkan tahun lalu turun, tapi penurunan semester II kami targetkan hanya sekitar 3%,” jelasnya.
Pada bisnis pertambangan batubara, UNTR memproyeksikan volume produksi mencapai 11 juta ton sepanjang tahun, termasuk kontribusi dari coal trading dan pet coal yang mencapai sekitar 35% dari total produksi.
Untuk segmen emas, perusahaan mengantisipasi penurunan tipis di semester II akibat dinamika gold trading, meski secara tahunan tetap mencatatkan kenaikan. Sementara itu, target penjualan nikel dipatok sebesar 2 juta wet metric ton (wmt), dengan mayoritas 70% berasal dari coal mine.
Kinerja Keuangan
Terakhir kali, pada paruh pertama 2025 perusahaan melaporkan kinerja llaba bersih Rp8,1 triliun. Meski pencapaian sepanjang Januari–Juni melemah secara yoy, kinerja pada kuartal terakhir UNTR menunjukkan rebound. Laba bersih tercatat Rp4,9 triliun, melonjak 55% dibanding kuartal sebelumnya, meskipun pendapatan relatif stagnan pada kisaran Rp34,26 triliun.
Penopang utama lonjakan laba berasal dari segmen alat berat yang tumbuh 15,9% quarter to quarter (qoq), pertambangan batubara naik 92,7% qoq, serta emas dan mineral yang melesat 575,4% qoq.
Selain faktor operasional, penguatan kinerja juga ditopang pembalikan rugi kurs menjadi keuntungan Rp467 miliar, serta perbaikan dari pos rugi lain-lain menjadi laba Rp503 miliar.
Capex dan Ekspansi Bisnis
Guna memperkuat prospek jangka menengah, UNTR mengalokasikan belanja modal hingga US$1 miliar (sekitar Rp16 triliun) pada 2025.
Setengah alokasi capex akan diarahkan ke bisnis jasa kontraktor tambang melalui PT Pamapersada Nusantara (PAMA), 25% untuk pembangunan smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), dan 25% sisanya ke pengembangan bisnis emas serta mineral lainnya.
“Pendanaan capex tahun ini sebagian besar bersumber dari kas internal perseroan,” ujar Vilihati beberapa waktu lalu.
Tambang Emas Baru UNTR
UNTR memperluas portofolio mineral melalui akuisisi tambang emas. Anak usaha UNTR resmi mengambil alih hampir seluruh saham PT Agincourt Subsidiary Asa (ASA) dari PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) dengan nilai perusahaan mencapai US$540 juta atau sekitar Rp8,85 triliun.
Transaksi yang ditargetkan rampung pada Desember 2025 ini mencakup kepemilikan atas Proyek Doup di Sulawesi Utara dengan cadangan terbukti dan terduga 1,57 juta ons emas serta sumber daya mineral hingga 3,11 juta ons.
Corporate Secretary UNTR, Sara K. Loebis, menegaskan aksi korporasi tersebut bertujuan memperluas bisnis mineral. “Tujuan transaksi ini adalah untuk perluasan bisnis UNTR di bidang mineral,” tutur Sara.
PSAB sebelumnya juga memberi klarifikasi kepada otoritas pasar modal Indonesia perihal pelepasan seluruh saham ASA kepada UNTR, dengan menyampaikan bahwa kesepakatan divestasi tidak berdampak pada operasional berjalan.
Manajemen PSAB menyebut keputusan divestasi juga dibuat agar perusahaan dapat lebih fokus pada pengelolaan tambang yang sudah berproduksi. “Dengan pelepasan ASA, Perseroan akan fokus kepada tambang-tambang Perseroan yang sudah berproduksi, namun Perseroan selalu terbuka untuk setiap peluang usaha yang baru,” tulis PSAB, dikutip Selasa.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2025, ASA menyumbang aset sebesar US$213,21 juta dari total aset konsolidasian PSAB senilai US$853,72 juta, atau sekitar 25%. Meski kontribusinya signifikan secara nilai, ASA masih dalam tahap pembangunan.
(rtd/wep)



























