"Berdasarkan nominalnya, angka ini tercatat melonjak 109,6% dibanding nilai defisit periode yang sama tahun lalu, yakni -Rp153,4 triliun," ujar Purbaya dalan Konferensi Pers APBN Kinerja dan Fakta (APPBNKita), Senin (22/9/2025).
Defisit anggaran terjadi akibat realisasi pendapatan negara lebih rendah dibanding realisasi belanja negara. Dari sisi penerimaan, realisasi pendapatan negara sampai 31 Agustus 2025 tercatat Rp1.638,7 triliun atau 57,2% dari target terbaru 2025 Rp1.865,5 triliun. Angka ini merosot 7,8% dari pendapatan periode yang sama 2024, yakni Rp1.777,3 triliun.
Di sisi lain, realisasi belanja negara tercatat Rp1.960,3 triliun atau 55,6% dari total target Rp3.527,5 triliun. Angka ini meningkat 1,5% dibanding belanja negara periode yang sama tahun lalu, yakni Rp1.930,7 triliun.
Bendahara Negara melaporkan realisasi pembiayaan anggaran sampai 31 Agustus 2025 tercatat mencapai Rp425,7 triliun atau 64,3% dari target 2025 terbaru yang sebesar Rp662 triliun.
Dengan demikian, realisasi utang pemerintah sampai bulan kedelapan tahun ini melonjak 44,3% dibanding realisasi utang periode yang sama tahun lalu.
(lav)


























