Sebaliknya, andai rupiah masih melemah maka target support terdekat ada di Rp 16.450/US$. Apabila tertembus, maka mengkonfirmasi support selanjutnya di level Rp 16.480-16.500/US$.
Dolar Sedang Lemas
Hawa penguatan rupiah sudah terasa bahkan sebelum pasar spot dibuka. Rupiah sudah memperlihatkan keperkasaan di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF).
Kemarin, rupiah menutup perdagangan pasar NDF di posisi Rp 16.385. Lebih kuat dibandingkan penutupan pasar spot kemarin.
Rupiah mampu memanfaatkan momentum kelesuan dolar AS. Kemarin, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) melemah 0,2% ke posisi terendah sejak 23 Juli atau hampir dua bulan terakhir.
Pelemahan dolar AS disebabkan oleh keyakinan pasar bahwa bank sentral Federal Reserve bakal menurunkan suku bunga acuan dalam rapat pekan ini. Mengutip CME FedWatch, peluang penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke 4-4,25% adalah 95,9%. Sementara kemungkinan pemangkas 50 bps menjadi 3,75-4% adalah 4,1%.
Perlambatan di pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam sepertinya menjadi faktor utama jika Gubernur Jerome ‘Jay’ Powell dan kolega sepakat untuk menurunkan suku bunga acuan. Pada Agustus, penciptaan lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll) hanya 22.000. Jauh lebih rendah ketimbang Juli yang sebesar 79.000.
Sedangkan tingkat pengangguran pada Agustus mencapai 4,3%. Ini menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2021 atau hampir empat tahun terakhir.
Kelesuan di pasar tenaga kerja diyakini akan membuat The Fed melakukan intervensi. Caranya adalah dengan melonggarkan kebijakan moneter, yang dicerminkan dengan penurunan suku bunga acuan.
Saat suku bunga turun, maka berinvestasi di aset-aset berbasis dolar AS (terutama instrumen berpendapatan tetap) menjadi ikut turun. Hasilnya, dolar AS mengalami tekanan jual dan nilai tukarnya melemah.
(aji)





























