Dengan begitu, ketika grup bisnis yang menjadi pelanggan utama tersebut tertekan, dampaknya ke pengurangan permintaan berpotensi memengaruhi seluruh bisnis hilir Pertamina holding.
“Jadi yang diukur bukan hanya risiko satu entitas secara individual dalam melakukan kegiatan korporasi, tetapi juga dampak atau imbasnya ke entitas lain yang berelasi,” tegas dia.
Bisnis Noninti
Herry juga memandang Pertamina perlu melepas bisnis yang tidak terkait dengan sektor migas, selain berencana menggabungkan tiga entitas bisnis di sektor hilir migas tersebut.
Menurut dia, bisnis noninti atau non-core milik Pertamina justru memberikan tambahan bagi perseroan dalam jangka waktu panjang.
“Hal lain yang menurut saya perlu segera dilakukan, kikis habis bisnis yang non-core,” ungkap dia.
Di sisi lain, Herry menegaskan rencana merger tiga entitas bisnis Pertamina berpotensi membuat bisnis hilir perseroan menjadi terintegrasi dari aspek pengolahan, pengangkutan, hingga penjualan dan distribusi.
Dia memprediksi biaya operasional yang dikeluarkan Pertamina Patra Niaga lebih efisien dalam menangani pengiriman migas, termasuk dalam melakukan impor, jika Pertamina Internasional Shipping sudah bergabung menjadi satu entitas bisnis.
Selanjutnya, perusahaan holding yakni Pertamina akan lebih mudah mengontrol entitas bisnisnya karena memiliki jumlah yang lebih ramping.
“Holding juga bisa sharing risiko dengan entitas anak seperti Pertamina Patra Niaga yang labanya gemuk, terutama untuk menopang sektor pengolahan atau kilang yang secara bisnis berat,” pungkas dia.
Untuk diketahui, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menjelaskan tiga anak usaha—yang masing-masing bergerak di bisnis SPBU, kilang, serta pengapalan — Pertamina tersebut akan dimerger untuk memperkuat operasional bisnis sektor hilir perusahaan. Merger ditargetkan tuntas pada akhir tahun ini.
“Supaya lebih efektif, memang ada beberapa kajian di kita untuk menggabungkan antara Kilang [KPI], PIS, dan PPN. Iya, nanti akan digabungkan,” kata Simon ditemui awak media di Kompleks Parlemen, Kamis (11/9/2025).
"[...] Kita targetkan akan selesai pada akhir 2025 ini," tegasnya.
Menurut Simon, penggabungan tiga subholding tersebut dilakukan untuk memitigasi penurunan laba perusahaan akibat kondisi pasar dan komoditas global yang diklaim sedang tak mendukung.
Akibat permintaan dan harga yang turun, Simon menyatakan margin keuntungan yang didapatkan akhirnya makin kecil. Produksi kilang milik Pertamina, padahal, sedang meningkat karena banyaknya kilang baru.
“Nah, dengan marginnya semakin kecil, tentunya secara keseluruhan, secara konsolidasi kan akan berpengaruh kurang baik ke bottom line perusahaan,” tegas Simon.
Di sisi lain, Simon juga mengungkapkan bahwa perseroan berencana melepas bisnis penerbangannya, yakni PT Pelita Air, untuk digabungkan dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA).
Simon menjelaskan, rencana itu dilakukan seiring dengan optimasi bisnis yang difokuskan ke sektor migas dan energi baru terbarukan (EBT).
Selain bisnis Aviasi, Pertamina juga berencana melepas sektor pelayanan kesehatan dan asuransi yakni PT Patra Jasa.
Hal tersebut, menurutnya telah sesuai dengan peta jalan yang telah dipersiapkan oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
(azr/wdh)





























