Konsumsi yang lesu berkepanjangan ditambah penerimaan kargo dari fasilitas Rusia yang sedang dikenai sanksi menimbulkan pertanyaan apakah pembelian China di pasar global akan kembali meningkat pada musim dingin ini atau bahkan seterusnya.
Prospek jangka panjang juga dipertanyakan, mengingat Beijing baru saja menyepakati perjanjian awal untuk memperluas aliran gas dari Rusia melalui pembangunan pipa baru yang dijadwalkan beroperasi pada dekade berikutnya.
Situasi ini bisa menjadi masalah bagi produsen, yang menghadapi potensi kelebihan pasokan tahun jamak atau multiyear mulai 2026.
Ekspor dari AS sudah melonjak berkat percepatan produksi di fasilitas baru Venture Global Inc. di Plaquemines, Louisiana. Proyek-proyek besar lain juga akan menyusul dengan dukungan penuh dari pemerintahan Trump.
“Industri terus memprediksi kenaikan permintaan LNG dari China, tapi itu belum terjadi,” kata Steve Hill, Executive Vice President untuk perdagangan gas dan LNG di Mercuria Energy Group Ltd.
“Namun jelas, China perlu meningkatkan impor LNG secara signifikan agar pasar bisa menyerap pertumbuhan pasokan yang akan datang.”
Raksasa energi seperti Exxon Mobil Corp. dan Chevron Corp. tetap menebar optimisme di konferensi tersebut.
Mereka memperkirakan China akan mencari pasokan gas dari berbagai sumber, tak hanya musim dingin ini, untuk memenuhi kebutuhan energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada batu bara yang lebih kotor.
“Kami masih sangat optimistis terhadap pertumbuhan jangka panjang China,” ujar Peter Clarke, Senior Vice President di Exxon.
“Dan tentu saja kami melihat Asia berkembang akan mengikuti jejak China. Minat dari banyak negara di kawasan ini semakin besar untuk menggantikan batu bara dengan gas.”
Namun untuk saat ini, impor LNG China telah turun selama sepuluh bulan berturut-turut. Produksi gas domestik meningkat, dan kesepakatan pipa baru dengan Rusia diperkirakan akan makin menekan pembelian LNG.
Kondisi ini membuat sejumlah pelaku pasar skeptis terhadap ruang pemulihan permintaan.
Selain itu, harga domestik yang rendah membuat pembelian kargo dari luar negeri tidak selalu ekonomis. Importir lebih memilih menjual kembali pasokan ke pasar lain yang lebih menguntungkan.
Percepatan pembangunan pembangkit tenaga surya dan angin juga mulai menggerus penggunaan gas di sektor listrik.
Jika harga global turun lebih jauh, hal itu bisa menarik kembali pembeli yang sensitif terhadap harga, menurut Anders Porsborg-Smith, Managing Director dan Partner di Boston Consulting Group.
Harga di bawah US$8–US$9 per juta British thermal unit (mmbtu) bisa memicu pembelian, katanya, dibandingkan level saat ini yang sekitar US$11 per mmbtu di Eropa dan Asia.
Namun dengan industri China yang masih terpukul tarif dan ketidakpastian makroekonomi, Porsborg-Smith tidak melihat adanya pendorong besar permintaan dalam waktu dekat, sehingga kemungkinan besar akan ada lebih banyak pasokan tersisa bagi pembeli lain.
“Kecuali terjadi cuaca ekstrem, saya rasa mereka tidak akan kembali membeli,” katanya. “Mereka sudah punya cukup untuk tahun ini.”
(bbn)






























