Logo Bloomberg Technoz

Indonesia Tertinggal dari Malaysia Soal Akses Sawit di Eropa

Mis Fransiska Dewi
12 September 2025 17:00

Perkebunan kelapa sawit di Kotawaringin Barat./Bloomberg-Muhammad Fadli
Perkebunan kelapa sawit di Kotawaringin Barat./Bloomberg-Muhammad Fadli

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indonesia tertinggal selangkah dari Malaysia dalam hal aksesbilitas produk minyak sawit di pasar Uni Eropa.  

Sebab, Uni Eropa baru saja mengakui sertifikasi Minyak Sawit Berkelanjutan Malaysia (Malaysian Sustainable Palm Oil/MSPO). Di sisi lain, sertifikasi serupa yang diterbitkan oleh Indonesia, yakni Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) masih belum diakui oleh blok negara di kawasan Eropa tersebut. 

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan, salah satu penyebab tak kunjung diakuinya ISPO oleh Uni Eropa adalah masih terbatasnya jumlah pelaku usaha dan petani sawit yang memiliki sertifikasi tersebut. 


Berdasarkan data yang dimilikinya, sejauh ini jumlah perusahaan anggota Gapki yang sudah menggenggam sertifikasi ISPO sebanyak 573 perusahaan dari total 752 perusahaan. Sementara itu, jumlah perusahaan non-anggota Gapki yang telah memiliki ISPO sebanyak 484 perusahaan. Adapun di tingkat petani, jumlahnya masih sangat kecil, yakni 100 petani. 

“Baru sekitar 1% petani yang memenuhi standar tersebut,” kata Eddy kepada Bloomberg Technoz, Jumat (12/9/2025).

Perkebunan sawit di Kalimantan Tengah./Bloomberg-Muhammad Fadli