“Ini kondisi yang ada. Jadi kan kita melihat ini karena ada perubahan penggunaan energi juga, ya ini mungkin itu dampaknya ada terhadap ini kilang-kilang secara global,” ujarnya.
Dampak ke RI
Sehubungan dengan fenomena tersebut, Yuliot mengatakan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia masih tinggi; mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari (bph).
Sebagian besar minyak yang didatangkan dari impor juga diolah di kilang dalam negeri untuk menjadi BBM. Dengan demikian, industri kilang di Tanah Air diyakini belum akan terpengaruh oleh tren global tersebut lantaran permintaannya masih kuat.
“Jadi ini kita lihat, ini bagaimana optimalisasi kilang yang ada dalam negeri. Kemudian itu berapa, kalau tidak tercukupi dari kilang dalam negeri, berarti kita harus melakukan impor dari luar negeri,” ujarnya.
Untuk diketahui, selain perkembangan adopsi kendaraan listrik, berbagai faktor yang ditengarai menekan margin kilang—khususnya di Asia — turut dipicu oleh overkapasitas yang terjadi di China hingga imbas dari sanksi Amerika Serikat (AS) ke sektor energi Rusia sejak 10 Januari 2025.
Saat ini, Pemerintah China sendiri tengah berupaya memangkas kapasitas kilang di negara tersebut.
Rongsheng Petrochemical Co. memperkirakan upaya China untuk memangkas kapasitas industri pengolahan minyak domestik bakal membutuhkan waktu sekitar 5 tahun.
Inisiatif tersebut bisa memerlukan waktu 3 hingga 5 tahun untuk menghapus sekitar 100 juta ton kapasitas kilang, kata Li Xinhua, Global Head of Trading Rongsheng Petrochemical Co., dalam konferensi APPEC yang digelar S&P Global Commodity Insights di Singapura.
“Prosesnya akan memakan waktu cukup lama,” kata Li dalam forum industri tersebut.
Pembuat kebijakan di ekonomi terbesar Asia itu tengah mendorong kampanye anti-involution untuk meredakan tekanan terhadap perusahaan akibat persaingan yang terlalu agresif, mengatasi deflasi, serta menopang pertumbuhan ekonomi.
Di sektor kilang minyak dan petrokimia, Pemerintah China mendorong penutupan fasilitas skala kecil serta modernisasi kilang lama, sambil mengarahkan investasi ke material berteknologi tinggi.
Li menambahkan, pengurangan kapasitas membutuhkan negosiasi antara pemerintah pusat dan daerah, yang cenderung memakan waktu karena berdampak pada lapangan kerja—isu sensitif di tengah kondisi pasar properti China yang masih rapuh.
Sementara itu, dampak tarif perdagangan membuat harga minyak tidak lagi sepenuhnya mencerminkan dinamika pasar, sehingga menggerus keuntungan finansial bagi kilang China.
“Hal ini mendorong kami untuk menurunkan produksi bahan bakar minyak, sekaligus meningkatkan produksi petrokimia,” kata Li, dikutip Bloomberg.
(wdh)






























