Kinerja fundamental BBCA juga dinilai masih solid. Pada semester I-2025, perseroan mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp959 triliun atau tumbuh 12,9% secara tahunan (yoy), jauh di atas rata-rata industri sebesar 7,3% yoy. Laba bersih tercatat Rp29 triliun, naik 8% yoy, didorong oleh pendapatan bunga Rp42,5 triliun serta pendapatan non-bunga Rp13,7 triliun. Dari sisi efisiensi, rasio beban terhadap pendapatan (CIR) membaik ke level 29,1%.
Azis menyoroti likuiditas BBCA yang tetap terjaga di tengah ketatnya pasar dana pihak ketiga. “Berbeda dengan sejumlah bank lain, BBCA berhasil menjaga Loan to Deposit Ratio (LDR) pada kisaran 76–78%. Proporsi dana murah atau CASA juga sangat dominan, mencapai 82,5%. Kombinasi ini membuat NIM BBCA relatif stabil dan memberi ruang ekspansi lebih lanjut,” ungkapnya.
Kenaikan harga saham hari ini juga mendapat dukungan sentimen positif dari konsensus pasar. Data Bloomberg menunjukkan sebanyak 34 analis memberikan rekomendasi buy untuk saham BBCA, hanya tiga yang menyarankan hold. Target harga rata-rata dipatok Rp10.824 per saham, yang berarti masih ada potensi kenaikan lebih dari 38% dari level penutupan pada hari ini.
(red)




























