Logo Bloomberg Technoz

Ketiga, lanjut Hariyadi, terdapat penurunan daya beli masyarakat RI. Lalu, faktor penyebab keempatnya adalah ada disrupsi oleh penjualan vila, rumah warga lokal yang disewakan untuk turis (homestay), dan lain sebagainya di Bali dijual lewat platform sharing economy seperti Airbnb.

Padahal, kata Hariyadi, jumlah turis di Pulau Dewata diperkirakan naik pada tahun ini dan telah kembali seperti sebelum pandemi COVID-19 yakni sekitar 6 juta wisatawan asing.

“Tapi, ini ada disrupsi oleh penjualan vila, lalu homestay dan sebagainya ya yang dijual melalui platform sharing economy. Sharing economy tuh kayak AirBNB itu loh, nah itu dia tidak memakai hotel yang resmi tapi menginapnya di hotel-hotel yang non resmi atau kita bilang ilegal lah gitu ya,” ungkap dia.

Sementara itu, terkait Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI mengatakan kini hotel terindikasi kelebihan pasokan (oversupply), Hariyadi menerangkan bahwa sekarang oversupply terjadi karena adanya penyusutan pasarnya. Dengan adanya jumlah kamar yang banyak, maka seharusnya Indonesia perlu mempromosikan wisatanya ke luar negeri agar para turis mancanegara dapat masuk datang ke Tanah Air, serta mendorong penyelenggaran acara (event) internasional karena hotel dalam negeri memiliki kelengkapan pendukungnya seperti kamar, ruang rapat, dan lain sebagainya.

“Jadi sebetulnya oversupply itu tergantung ya, kalo tidak ada potongan anggaran, terus juga promosi pariwisatanya itu juga kenceng, itu sebenernya ya tidak oversupply sebetulnya kan gitu ya. Karena waktu pas di tahun 2024 itu kan kita sempet mencapai rata-rata tingkat okupansi nasional tuh sekitar 56%, itu semua loh termasuk yang non bintang ya,” jelas Hariyadi.

“Nah jadi sebetulnya sekarang itu oversupply-nya itu karena memang terjadi tadi, penciutan pasarnya,” imbuh dia.

Dia pun mengatakan dengan adanya penurunan tingkat okupasi hotel di Indonesia, PHRI berharap Kemenpar RI dapat meningkatkan permintaan (demand) seperti menggencarkan promosi ke luar negeri supaya wisatawan asing mau datang ke Tanah Air. Selain itu, promosi terkait penerbangan juga perlu dilakukan, pasalnya banyak orang Indonesia masih bepergian ke luar negeri dibandingkan ke dalam negeri.
 
Lebih lanjut Hariyadi, untuk rute-rute yang sudah ada penerbangan langsung (direct flight) dari luar negeri ke Indonesia, harus dimaksimalkan upaya-upaya promosi dan target-target tertentu ini. Kemudian dia pun mendorong event¬-event di daerah dilakukan kolaborasi antara pihak hotel dengan penyelenggaranya.

“Ya itu sih yang paling utama, sama yang terakhir mungkin ini, kepada yang wisatawan Nusantara ya, nah itu harus bisa menyasar target-target yang potensial,” tandas Hariyadi.

(far/spt)

No more pages