Logo Bloomberg Technoz

Pengamat Sebut Tata Kelola Beras Terjegal Seretnya Penyaluran

Redaksi
07 September 2025 12:30

Calon pembeli memilih beras di salah satu agen di Kawasan Pejaten, Jakarta, Selasa (12/8/2025) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Calon pembeli memilih beras di salah satu agen di Kawasan Pejaten, Jakarta, Selasa (12/8/2025) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pengamat pertanian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) menyatakan bahwa stok cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebesar 3,9 juta ton masih akan menumpuk meskipun sudah dikurangi penyaluran SPHP sebanyak 1,3 juta ton pada rentang Juli hingga Desember 2025 dan 366 ribu ton bantuan pangan beras tersalurkan semua.

“Bagi BULOG, stok beras akhir tahun yang besar akan menimbulkan konsekuensi tidak mudah. Selain ada risiko turun volume, beras juga berpotensi turun mutu dan bahkan rusak. Risiko ini muncul karena dari 3,9 juta ton yang ada di gudang BULOG saat ini ada ratusan ribu ton beras berusia lebih setahun. Sebagian sisa impor 2024” kata Khudori, Minggu (7/9/2025).

Khudori mempertanyakan apakah beras yang memiliki usia tua tersebut bisa tersalurkan secara keseluruhan hingga akhir tahun ini. Terlebih hal ini akan menurunkan kualitas dari beras tersebut.


“Lalu, beras penyerapan dari gabah segala kualitas (any quality) di tahun ini hampir bisa dipastikan kualitasnya tidak bagus. Beras seperti ini tidak mungkin disimpan berlama-lama. Dihadapkan pada pilihan tidak mudah seperti ini, prinsip FIFO (firt in first out) tidak bisa diterapkan secara kaku.” kata Khudori. 

Ia mengatakan bisa saja beras yang belum berusia empat bulan harus disalurkan terlebih dahulu karena ada risiko turun mutu dan rusak. Kalau penyaluran beras hingga akhir tahun kecil, risiko besar menumpuk di awal 2026.