Strategi harga tersebut sekaligus menjadi ujian bagi VinFast, mengingat perusahaan ini merupakan produsen EV murni asing pertama yang berinvestasi membangun pabrik di India, dan peluncuran produknya dilakukan hanya berselang beberapa pekan setelah Tesla. Pabrik barunya senilai USD500 juta (sekitar Rp8,5 triliun) di India bagian selatan memungkinkan VinFast menghindari bea masuk 70% yang dikenakan pada kendaraan Tesla dan BYD.
Bea masuk tinggi itu memaksa Tesla yang dipimpin Elon Musk mematok harga model entry-level di India di atas 6 juta rupee atau Rp1,3 miliar, jauh di atas kisaran 2,2 juta rupee atau Rp478 juta yang menjadi titik pusat permintaan EV India, menurut data JATO Dynamics. Pemesanan awal Tesla, yang membuka showroom pertamanya di India pada Juli, sejauh ini dinilai mengecewakan.
Pabrik VinFast di Thoothukudi, negara bagian Tamil Nadu, mulai beroperasi sejak Juli dengan kapasitas awal 50.000 unit per tahun. Perusahaan menargetkan kapasitas meningkat menjadi 150.000 unit dalam satu tahun dan dua kali lipat dalam tiga tahun berikutnya.
Produsen ini menjual 97.399 kendaraan listrik secara global pada 2024 dan menargetkan dua kali lipat pada tahun ini. Di India, showroom pertama dibuka pada Juli, dengan rencana ekspansi menjadi 35 diler di 27 kota hingga Desember.
Pabrik di India selatan ini menjadi pabrik ketiga VinFast sekaligus yang pertama di luar Vietnam. India diposisikan sebagai pusat ekspansi VinFast ke Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika. Perusahaan sudah menerima pesanan dari sejumlah negara di kawasan tersebut, kata CEO VinFast Asia Pham Sanh Chau pada Juli.
Dalam wawancara dengan Bloomberg News pada Sabtu, Chau mengatakan VinFast memilih memperkenalkan model di segmen menengah hingga sedikit premium di India. Strategi ini menempatkannya berhadapan langsung dengan pemain lokal seperti Mahindra & Mahindra Ltd. dan Tata Motors Ltd., serta Hyundai Motor India Ltd. dan Maruti Suzuki India Ltd.
Pendiri Pham Nhat Vuong pada April lalu menegaskan perusahaan akan memprioritaskan pasar Asia termasuk India, Indonesia, dan Filipina dibanding Amerika Utara dan Eropa, di mana biaya logistik yang tinggi menekan marjin.
VinFast juga akan menawarkan layanan isi daya gratis selama tiga tahun kepada pelanggan di India melalui unit infrastruktur V-Green, anak usaha Vingroup. V-Green berencana membangun 15.000 titik pengisian daya dalam setahun di seluruh India, dengan dukungan pembiayaan dari bank-bank untuk mitra waralabanya, tambah Chau.
(bbn)






























