“Fundamental pertumbuhan laba tetap kunci. Kalau perusahaan bisa tumbuh 50% dalam tiga tahun, investor rela membayar lebih mahal. Tapi kalau tidak ada pertumbuhan, momentumnya hanya sesaat,” katanya.
Henry menambahkan, katalis lain berasal dari tren suku bunga yang diprediksi turun baik di Amerika Serikat maupun Indonesia. JP Morgan memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 75 basis poin tahun ini, sementara di Indonesia BI rate berpotensi turun ke 4,25%.
“Hal yang menarik adalah stabilitas dolar AS yang membuat rupiah juga stabil,” kata dia.
JP Morgan juga menyoroti rilis APBN 2026 pada 15 Agustus lalu yang dinilai menunjukkan keseimbangan antara target pertumbuhan dan defisit fiskal.
“Budget ini cukup bagus, kuncinya adalah eksekusi. Kami rasa akan berdampak positif untuk ekonomi,” ujar Henry.
Dengan berbagai katalis tersebut, JP Morgan menempatkan sejumlah sektor sebagai pilihan utama bagi investor. Sektor konsumer dinilai akan mendapat dorongan dari peningkatan belanja pemerintah. Sektor pertambangan, khususnya nikel, juga dipandang prospektif. Selain itu, sektor sensitif terhadap pergerakan suku bunga seperti otomotif dan properti juga berpotensi menguat.
Untuk sektor teknologi, Henry menegaskan pandangan positif.
“Sebelumnya mereka fokusnya bakar duit. Sekarang fundraising sudah susah, jadi fokus berubah ke profit. Dari laporan keuangannya, profit sudah naik pesat. Dengan penurunan suku bunga, sektor ini harusnya makin positif,” jelasnya.
Henry menambahkan, emas juga masih dipandang sebagai instrumen safe haven di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda.
(dhf)


























