Serangan ini menuai kritik dari dalam dan luar negeri atas dugaan pembunuhan warga sipil. AS telah mengerahkan sejumlah kapal yang membawa sekitar 4.000 pelaut dan marinir ke Karibia, yang menurut pejabat AS, untuk memberantas perdagangan narkoba.
Tindakan ini memicu spekulasi bahwa Presiden Donald Trump—yang telah berjanji tidak akan melibatkan AS ke dalam konflik asing lebih lanjut—sedang berusaha menggulingkan Presiden Nicolas Maduro dari kekuasaannya.
Pada Kamis pagi, Maduro tampil di televisi pemerintah dan memerintahkan semua anggota cadangan militer dan lebih dari 10 juta anggota milisi untuk bergerak ke pos-pos mereka masing-masing.
Penerbangan singkat itu terjadi pada hari yang sama saat Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengunjungi Ekuador untuk menggalang dukungan bagi kampanye keras AS. Rubio menyatakan AS siap untuk melancarkan lebih banyak serangan serupa terhadap Venezuela dan mengisyaratkan bahwa AS berniat mengambil tindakan lebih agresif.
"Kami akan terus memburu mereka, seperti biasa, tetapi kali ini kami tidak hanya akan memburu pengedar narkoba atau speedboat mereka, dan mari kita coba tangkap mereka," kata Rubio kepada wartawan dalam jumpa pers.
"Presiden telah mengatakan dia ingin memerangi kelompok-kelompok ini karena mereka telah memerangi kami selama 30 tahun dan tidak ada yang merespons."
Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Rubio membela serangan AS tersebut dan memperingatkan serangan-serangan lain akan menyusul, mengatakan bahwa pemerintah AS mengirim pesan ini pada para pengedar narkoba.
(bbn)
































