Logo Bloomberg Technoz

Paradoks IHSG, Hanya Turun 1% Saat Situasi RI Memanas

Artha Adventy
02 September 2025 09:40

Pekerja di depan layar indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (1/9/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pekerja di depan layar indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (1/9/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sejumlah analis meramalkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (1/9/2025) akan jatuh seiring respons terhadap situasi nasional yang terjadi dalam tiga hari belakangan. Namun nyatanya, meski sempat jatuh hingga 3,5% di intraday, penurunan IHSG mampu tertahan.

Pada penutupan perdagangan Senin (1/9/2025), indeks komposit parkir di level 7.736 atau turun 1,12%. Nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp23,51 triliun. Pergerakan indeks kemarin yang sempat jatuh hingga 3,5% di intraday terjadi di tengah situasi sosial, unjuk rasa dan kerusuhan beberapa hari terakhir.

Pergerakan IHSG belakangan ini dinilai tidak lagi mencerminkan kondisi pasar saham yang sebenarnya. Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menilai, kenaikan maupun penurunan IHSG saat ini lebih banyak digerakkan oleh segelintir saham berkapitalisasi jumbo, sementara ratusan saham lain justru terus merosot. Kondisi ini menciptakan paradoks, di mana IHSG tampak kokoh, namun mayoritas saham tidak ikut terkerek.


"Naik turunnya IHSG dipengaruhi oleh segelintir saham saja. Kalau saham-saham seperti DCII atau DSSA bergerak naik, maka indeks bisa tetap hijau meski ratusan saham lain anjlok," ujar Teguh dalam riset tertulis, dikutip Selasa (2/9/2025).

Teguh mencontohkan, meski IHSG beberapa kali menembus level tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH), saham-saham unggulan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru mengalami tren penurunan tajam. Sejak puncaknya di Rp10.950 per saham pada September 2024, harga BBCA per 29 Agustus 2025 turun hingga Rp8.075.