Ekspor secara keseluruhan menurun dalam beberapa bulan terakhir setelah melonjak pada awal tahun karena perusahaan-perusahaan berusaha menghindari pungutan tersebut.
Dampak kenaikan tarif impor AS bervariasi di kawasan ini: Di Jepang, pesanan ekspor baru mengalami kontraksi tercepat sejak Maret 2024, seiring berkurangnya permintaan dari Eropa, China, dan AS. Di Korsel, penurunan ini merupakan yang terbesar sejak April.
Bahkan di Thailand, lonjakan pesanan baru didorong oleh permintaan domestik, sedangkan pesanan ekspor baru turun untuk pertama kalinya sejak April.
Sementara itu, Indonesia menguat karena aktivitas secara keseluruhan meningkat pertama kalinya sejak Maret. Sehingga, perusahaan bisa menaikkan harga dengan kenaikan tertinggi dalam sekitar setahun.
Pesanan ekspor baru naik dengan laju tercepat sejak September 2023, dan perusahaan-perusahaan tetap optimistis untuk tahun ini. Namun, beberapa hari terakhir, protes terkait masalah ketidaksetaraan dan tenaga kerja meluas di berbagai daerah.
Data indeks manajer pembelian (PMI) Vietnam dan Malaysia yang dirilis akhir pekan ini akan memberikan gambaran lebih lengkap mengenai aktivitas manukaftur di kawasan Asia Tenggara.
(bbn)
































