Logo Bloomberg Technoz

Ketua Umum PBNU, K.H. Yahya Cholil Staquf, menyampaikan hal yang sama bahwa pertemuan dengan 16 organisasi kemasyarakatan Islam berlangsung penuh keterbukaan. Dialog yang dilakukan, katanya, menyentuh persoalan bangsa secara mendalam.

“Alhamdulillah, sore ini (kemarin rombongan 16 Organisasi Kemasyarakatan Islam diterima oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto di Hambalang. Dari 16 organisasi kemasyarakatan tersebut hadir para ketua umum dan para sekjen,” ujar Yahya.

“Kami berdialog dari hati kehati memahami secara umum tapi lengkap permasalahan bangsa yang dihadapi khususnya hari-hari ini dan kami bersepakat untuk bersama-sama, bahu-membahu berupaya untuk mengatasi keadaan, untuk mengajak kepada masyarakat supaya lebih tenang,” lanjutnya.

Yahya juga menegaskan dukungan ormas Islam terhadap kepemimpinan Prabowo. “Insya Allah bersama-sama Presiden Prabowo Subianto dibawah pemerintahan beliau dan juga dengan dukungan dari para pemimpin umat, Insya Allah bersama-sama kita bisa mengatasi apapun tantangan yang kita hadapi,” ucapnya.

Ia menambahkan, dialog akan berlanjut di Istana Negara. “Sesudah ini Insya Allah akan kami melanjutkan dan pertemuan lanjutan, yang Insya Allah akan dilaksanakan di Istana Negara, sama antara Bapak Presiden dengan ormas-ormas Islam dan mudah-mudahan di sana nanti akan ada sesuatu yang bisa dinyatakan sebagai tekad bersama, kesepakatan bersama antara Presiden Prabowo Subianto dengan ormas-ormas Islam sebagai perwakilan dari tubuh umat Islam di Indonesia ini,” kata Yahya.

Sebelumnya, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan pernyataan sikap terkait tragedi kekerasan dalam demonstrasi massa di Jakarta pada 28 Agustus 2025, yang menewaskan seorang warga sipil, Affan Kurniawan, pengemudi ojek online. 

"PGI menegaskan bahwa aparat keamanan seharusnya melindungi rakyat, bukan justru menindas dengan tindakan represif. Kekerasan, penggunaan gas air mata, maupun meriam air hanya menunjukkan wajah negara yang kurang empati," kata Ketua PGI Jacklevin F.Manuptty melalui keterangan yang dilansir dari website. 

PGI juga mengingatkan bahwa ekspresi kemarahan rakyat lahir dari janji-janji penguasa yang tidak terealisasi, kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil, dan kepemimpinan yang nir-empati.

Dalam pernyataannya, PGI mendesak Kapolri untuk menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap demonstran dan menangani kasus tewasnya warga sipil secara serius, jujur, dan transparan. DPR diminta untuk menyampaikan permohonan maaf kepada rakyat atas sikap dan pernyataan anggotanya yang melukai hati publik, sekaligus benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat banyak. Sementara itu, Presiden RI diingatkan untuk mendengarkan aspirasi masyarakat kecil, memberantas korupsi, serta memastikan pembangunan berkeadilan sosial.

PGI juga menyerukan seluruh penyelenggara negara agar menempatkan moralitas, etika, dan kemanusiaan sebagai kompas dalam setiap kebijakan. Aparat diminta profesional dan humanis dalam merespons aspirasi rakyat.

“Belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan,” demikian kutipan dari Yesaya 1:17 yang menjadi dasar seruan PGI untuk membela kehidupan, menegakkan keadilan, dan berpihak kepada yang lemah.

(hps)

No more pages