Kelompok karyawan yang menamakan diri No Azure for Apartheid menuding layanan cloud Microsoft Azure mendapatkan keuntungan dari kematian warga sipil karena menjual perangkat lunak dan teknologi kecerdasan buatan kepada militer Israel. Microsoft membantah tudingan tersebut, namun aksi protes berisiko merusak reputasi perusahaan sebagai pemberi kerja yang peduli dan aktor global yang bijak.
Upaya Microsoft meredam aksi demonstrasi belum membuahkan hasil. Karyawan, terkadang bergabung dengan aktivis luar, terus menyuarakan protes. Pekan lalu, sebanyak 20 orang ditangkap di alun-alun kantor pusat Microsoft setelah menolak perintah polisi untuk membubarkan diri. Polisi membongkar barikade darurat yang mereka buat dan menggiring mereka pergi. Para demonstran menghadapi tuduhan pelanggaran masuk, perusakan, perlawanan saat ditangkap, serta tindakan menghalangi.
(bbn)
































