"Bahkan sekarang, ada perspektif yang jelas dari pihak AS bahwa negosiasi terlihat menguntungkan bagi Korsel," kata Lee. "Namun, kami berpikir bahwa membatalkan atau mengubah kesepakatan yang telah dicapai begitu saja bukanlah hal yang diinginkan."
Berikut lima hal yang perlu diperhatikan:
Dana Investasi US$350 M
Salah satu potensi sumber ketegangan adalah rincian terkait dana Korsel senilai US$350 miliar untuk proyek-proyek di AS. Saat mengumumkan perjanjian dagang pada 31 Juli, Trump mengatakan investasi dari dana tersebut akan diarahkan langsung oleh presiden, dan 90% keuntungan akan kembali ke AS.
Korsel belum mengungkap banyak detail tentang bagaimana dana tersebut akan diimplementasikan, tetapi pihak berwenang mengatakan sebagian besar dana akan berupa jaminan pinjaman, dengan komitmen ekuitas aktual kemungkinan tetap di bawah 5%.
Dari total dana yang dijanjikan, US$150 miliar akan dialokasikan untuk galangan kapal guna menstimulus industri galangan kapal AS yang sedang lesu. Lee berencana akan mengibarkan bendera saat mengunjungi galangan kapal di Philadelphia dalam kunjungannya.
Masih harus dilihat apakah para pemimpin dapat menyepakati bagaimana dana tersebut akan diimplementasikan, termasuk jadwal penyaluran dana tersebut.
Investasi Swasta
Lee akan didampingi oleh para pemimpin perusahaan Korsel, termasuk Samsung Electronics Co, SK Hynix Inc, LG Energy Solution Ltd, dan Hyundai Motor Co.
Surat kabar Hankyoreh sebelumnya melaporkan perusahaan-perusahaan Korsel mungkin akan mengumumkan rencana investasi di AS hingga US$150 miliar pada pertemuan tersebut. Beberapa perusahaan Korsel sudah memiliki rencana investasi di AS, termasuk pabrik semikonduktor Samsung senilai miliaran dolar di Texas dan janji Hyundai Motor senilai US$21 miliar untuk fasilitas kendaraan dan baja.
"Pertemuan ini berisiko menimbulkan gesekan yang dapat mengancam kerangka kerja yang lebih luas jika Trump memutuskan Korea tidak memenuhi ekspektasinya," kata Adam Farrar dari Bloomberg Economics.
"Untuk mengatasi kekhawatiran tersebut, konglomerat-konglomerat besar Korea mungkin akan mengumumkan investasi tambahan di AS, seperti yang diisyaratkan Trump setelah mengumumkan perjanjian dagang."
Pasar Pertanian, Tarif Mobil & Cip
Setiap kemunduran yang dilakukan Lee di bidang pertanian—memberikan akses lebih besar pada petani Amerika ke pasar daging sapi dan beras Korsel—berisiko memicu reaksi keras di dalam negeri.
Korsel sebelumnya mengatakan beras dan daging sapi dikecualikan dari konsesi dalam negosiasi, dengan alasan sensitivitas politik. Namun, Trump mengatakan Korsel akan "sepenuhnya terbuka" untuk berdagang dengan AS, termasuk pasar produk pertanian.
Komentar tersebut membuka kemungkinan adanya perbedaan interpretasi atas pakta dagang tersebut, seperti yang terjadi pada kesepakatan Washington dengan China dan Inggris.
Sebagian besar sektor ekonomi Korsel akan terpukul oleh rentetan tarif Trump, sehingga sulit bagi industri pertanian untuk bersikeras mereka harus dibebaskan dari dampak tersebut. Dalam ekonomi, sektor pertanian menghasilkan sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB).
Sebaliknya, industri otomotif dan semikonduktor merupakan pendorong utama ekspor nasional, yang setara dengan lebih dari 40% ekonomi. Cip menyumbang sekitar 21% dari ekspor tahun lalu, sementara mobil sekitar 10%.
Korsel diperkirakan akan mendesak penurunan tarif sektoral untuk barang-barang ekspor utama, termasuk suku cadang mobil dan semikonduktor. Apakah Lee pada akhirnya akan mengalah terkait sektor pertanian negaranya—basis dukungan krusial bagi partai liberalnya—demi syarat yang lebih baik bagi para eksportir, masih harus dilihat.
Belanja Pertahanan
Belanja pertahanan, yang berulang kali dibingkai Trump dengan istilah keuangan yang blak-blakan, menjadi inti dari berbagai isu, mulai dari pertanyaan yang sarat politik mengenai jumlah tentara AS yang ditempatkan di Korsel hingga peran negara Asia tersebut dalam kerangka keamanan regional yang lebih luas.
Trump mendesak sekutu AS untuk meningkatkan belanja keamanan dan mengurangi ketergantungan pada AS. Dalam konteks ini, ia menyebut Korsel sebagai "mesin uang." Negara ini menampung 28.500 tentara AS untuk membantu mencegah ancaman dari Korea Utara (Korut).
Meski isu pembagian biaya pertahanan tidak dibahas oleh para negosiator tarif, seorang pejabat senior Korsel sebelumnya mengonfirmasi kedua negara sedang membahas perluasan anggaran pertahanan Seoul sesuai dengan tren global. Korsel berencana membelanjakan 2,32% dari PDB-nya untuk pertahanan tahun ini.
Korut
Salah satu bidang diplomasi di mana Lee dan Trump mungkin menemukan kesamaan pandangan adalah pendekatan terhadap Korut. Pasalnya keduanya mencari perubahan dari pendekatan yang diambil pendahulu mereka.
Trump dan pemimpin Korut Kim Jong Un bertemu secara langsung tiga kali selama masa jabatan pertamanya. Namun, interaksi tersebut gagal meyakinkan Kim untuk menghentikan pengembangan program senjata nuklirnya. Korut sejak itu menolak gagasan untuk duduk bersama AS dan muncul sebagai sekutu utama Presiden Rusia Vladimir Putin, mendukung perangnya di Ukraina.
Pekan lalu, Kim menyerukan "ekspansi cepat" program senjata nuklir negaranya, meningkatkan ketegangan tepat saat AS dan Korsel memulai latihan militer gabungan yang dianggap Pyongyang sebagai awal dari perang.
"Korut, tentu saja, akan masuk dalam agenda, tetapi pertemuan tersebut mungkin tidak akan membuka peluang bagi kedua negara untuk berinteraksi dengan Pyongyang kecuali kedua presiden sepakat untuk menangguhkan latihan militer gabungan AS-Korsel dan mencabut denuklirisasi Korut dari target kebijakan," kata Rachel Minyoung Lee, peneliti senior di Stimson Center.
(bbn)
































