Logo Bloomberg Technoz

“Kami berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan presiden dan pemerintah kepada Intel, dan kami berharap dapat bekerja sama untuk memajukan teknologi dan kepemimpinan manufaktur AS,” kata CEO Intel, Lip-Bu Tan, dalam pernyataan resmi.

Saham Intel naik 5,5% menjadi US$24,80 pada penutupan perdagangan Jumat di New York. Saham sempat turun sekitar 1% dalam perdagangan setelah jam bursa usai kesepakatan diumumkan.

Dalam unggahan di media sosial, Trump menyebut transaksi itu sebagai “kesepakatan besar untuk Amerika, sekaligus kesepakatan besar untuk Intel.”

“Membangun semikonduktor dan cip generasi terdepan, yang menjadi fokus Intel, adalah fondasi masa depan bangsa kita,” ujarnya.

Langkah pemerintah mengambil kepemilikan sebagian menandai intervensi luar biasa dalam sebuah perusahaan Amerika, bertolak belakang dengan prinsip kapitalisme pasar bebas yang selama ini dianggap sakral kecuali dalam situasi luar biasa seperti perang atau krisis ekonomi sistemik.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pemerintah memandang produksi semikonduktor sebagai masalah keamanan nasional, mengingat Intel adalah salah satu dari sedikit perusahaan AS yang mampu memproduksi cip dalam skala besar di dalam negeri. Tujuannya menghindari kekurangan seperti yang mengguncang rantai pasok beberapa tahun terakhir.

Meski niat pemerintah sudah terlihat dalam beberapa pekan terakhir, langkah ini menciptakan risiko besar yang bisa mendistorsi pasar, aliran modal, hingga menimbulkan kerugian besar bagi pembayar pajak. Namun, taruhan ini juga berpotensi mengembalikan kejayaan Intel yang pernah jadi pionir industri, meski belakangan tertinggal dari para pesaing.

Trump sebelumnya kerap mengecam Chips Act yang ditandatangani pendahulunya, Joe Biden, dengan alasan subsidi tidak memberi keuntungan langsung bagi pembayar pajak. Kini, Trump menggunakan pendekatan baru yakni dana Chips Act dijadikan modal untuk mengambil saham. Intel sendiri sudah diproyeksikan menjadi penerima dana terbesar dari program tersebut.

Sebagai bagian dari pakta itu, pemerintah juga akan menerima waran lima tahun di harga US$20 per saham untuk tambahan 5% saham biasa yang hanya bisa dieksekusi jika Intel kehilangan kepemilikan minimal 51% dari bisnis manufaktur chip-nya. PJT Partners bertindak sebagai penasihat keuangan Intel.

Intel, yang berbasis di Santa Clara, California, menegaskan rencana ekspansi manufaktur lebih dari US$100 miliar (Rp1.628 triliun) di AS, termasuk pabrik baru di Arizona yang siap memulai produksi massal tahun ini. Namun, perusahaan tidak menyinggung proyek pabrik di Ohio yang terus tertunda.

Kesepakatan ini menjadi perubahan dramatis dari awal Agustus, ketika Trump sempat menyerukan agar Lip-Bu Tan mundur karena dianggap “sangat bermasalah” akibat keterkaitan masa lalunya dengan China. Pertemuan langsung Tan dan Trump setelah komentar tersebut justru membuka jalan bagi tercapainya kesepakatan Jumat ini.

“Saya bilang, ‘Saya rasa AS seharusnya diberi 10% dari Intel,’ dan dia menjawab, ‘Saya akan mempertimbangkannya,’ lalu saya berkata, ‘Kalau begitu saya ingin Anda lakukan itu,’” ujar Trump mengenai diskusinya dengan Tan.

Menteri Perdagangan Howard Lutnick mengatakan Trump ingin melihat manfaat langsung bagi AS dari pendanaan perusahaan strategis, bukan sekadar hibah. Lutnick yang kemudian merampungkan detail kesepakatan sejak pertemuan tersebut.

Gedung Putih menggambarkan kesepakatan ini sebagai model bagi perusahaan lain, meski belum menyebutkan siapa saja. Seorang pejabat AS mengatakan perusahaan yang sudah meningkatkan investasi di AS, termasuk Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. dan Micron Technology Inc., tidak akan dipaksa menawarkan ekuitas sebagai imbalan pendanaan.

Suntikan dana segar hampir US$9 miliar (Rp 146,5 triliun) langsung meningkatkan prospek pertumbuhan Intel, sekaligus membuka peluang kemitraan penting dalam pengembangan teknologi baru, area di mana Intel belakangan tertinggal.

Namun analis Wall Street menilai uang saja tidak cukup membalikkan nasib Intel. Perusahaan telah lama kehilangan pangsa pasar dan pelanggan. Tekanan politik dari Trump mungkin membantu menarik lebih banyak klien bagi divisi manufaktur Intel, sehingga biaya ekspansi domestik bisa terbayar.

“Trump semacam jadi tenaga penjual tambahan Anda,” kata Dan Morgan, manajer portofolio senior di Synovus Trust yang sudah lama mengikuti Intel.

Tetapi tantangannya besar. Divisi manufaktur cip Intel dinilai inferior dibanding pesaing dan masih harus membangun fasilitas baru generasi terkini.

“Selain uang, Intel butuh pelanggan,” tulis analis Bernstein, Stacy Rasgon, dalam catatan untuk klien. “Mendanai pembangunan tanpa pelanggan mungkin akan berakhir buruk bagi pemegang saham, termasuk pemerintah AS yang kini menjadi salah satu pemegang terbesar.”

Dalam pernyataannya, Intel menyebut sudah “sangat terlibat” dengan klien dan mitra potensial. Microsoft Corp., Dell Technologies Inc., HP Inc., dan Amazon Web Services turut menyatakan dukungan.

“Industri membutuhkan semikonduktor AS yang kuat dan tangguh, dan tidak ada perusahaan yang lebih penting bagi misi ini selain Intel,” kata Michael Dell, CEO Dell Technologies.

Kesepakatan Intel ini mencerminkan cara baru Trump menggunakan “diplomasi ekonomi” di periode keduanya, dengan fokus memperkuat manufaktur dalam negeri, menyeimbangkan perdagangan, dan memastikan dominasi AS di sektor strategis.

Awal Agustus, Trump mengumumkan kesepakatan kontroversial dengan Nvidia Corp. dan Advanced Micro Devices Inc., di mana kedua perusahaan setuju menyerahkan 15% pendapatan dari penjualan chip AI ke China kepada pemerintah AS.

Sebelumnya, Trump juga mengamankan “saham emas” dari Nippon Steel Corp. yang memberinya hak untuk mengambil keputusan atas United States Steel Corp., perusahaan yang diakuisisi produsen baja Jepang tersebut. Bulan lalu, Departemen Pertahanan juga mengumumkan kepemilikan saham 400 juta dolar AS di MP Materials Corp., perusahaan mineral langka asal AS yang kurang dikenal.

(bbn)

No more pages