Logo Bloomberg Technoz

Penurunan ekspor terbaru akan memperkuat kekhawatiran apakah ekonomi Jepang bisa terus tumbuh di tengah beban tarif Presiden AS Donald Trump terhadap perdagangan global.

Meski ekonomi sejauh ini berhasil mencatatkan pertumbuhan dalam lima kuartal terakhir walau konsumsi domestik lemah, penurunan ekspor lebih lanjut akan menyeret ekonomi ke arah kontraksi.

Ekspor yang terus turun juga akan mendorong Bank of Japan (BOJ) bersikap hati-hati. Kemampuan ekonomi untuk menunjukkan ketahanan menghadapi tarif AS merupakan faktor perhitungan BOJ saat mempertimbangkan waktu terbaik untuk mengerek suku bunga berikutnya.

BOJ diperkirakan akan mempertahankan kebijakannya saat menetapkan kebijakan terbarunya pada 19 September nanti.

Laporan ini menunjukkan ekspor ke AS anjlok 10,1% bulan lalu dibandingkan tahun sebelumnya, di mana pengiriman kendaraan dan suku cadang otomotif masing-masing amblas 28,4% dan 17,4%. Pengiriman peralatan manufaktur semikonduktor ke AS merosot 31,3%.

Pada April, AS memberlakukan tarif 25% untuk impor mobil dan suku cadang otomotif Jepang, serta bea masuk 10% untuk sebagian besar barang lainnya. Tarif impor baja dinaikkan menjadi 50% pada awal Juni.

Mobil dan barang-barang konsumsi umum akan dikenai tarif sebesar 15% berdasarkan kesepakatan dagang yang dicapai pada akhir Juli, meski implementasi kesepakatan tersebut mungkin membutuhkan waktu.

Dokumen tertulis mengenai kesepakatan dagang yang disetujui dengan Jepang dan Korea Selatan "tersisa beberapa pekan lagi," ujar Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dalam wawancara dengan CNBC, Selasa (19/8/2025).

Di luar AS, ekspor ke China turun 3,5%, sementara pengiriman ke Eropa berkurang 3,4%. Menurut Kementerian Keuangan, nilai tukar yen rata-rata 145,56 per dolar pada Juli, 8,9% lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya.

(bbn)

No more pages