Logo Bloomberg Technoz

Alasan Rupiah Dipatok Melemah ke Rp16.500/US$ dalam RAPBN 2026

Dovana Hasiana
15 August 2025 20:15

Karyawan menghitung uang dolar AS dan rupiahdi Jakarta, Jumat (11/10/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang dolar AS dan rupiahdi Jakarta, Jumat (11/10/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menetapkan asumsi kurs pada level Rp16.500/US$ dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026. 

Penetapan ini terjadi karena merujuk pada kisaran asumsi kurs Rp16.500–Rp16.900/US$ yang telah ditetapkan antara pemerintah, Bank Indonesia dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 

Meski angka itu lebih lemah dari Rp16.000/US$ pada APBN 2025, kata Sri Mulyani, tetapi tergolong sebagai level paling kuat dalam kisaran asumsi kurs yang dibahas sejak April 2025. 


“Rasanya kayak kita mengharapkan melemah, tidak. Namun itu lebih karena secara teknikal kemarin bahas dengan DPR dan ambil kisaran paling kuat,” ujar Sri Mulyani, Jumat (15/08/2025). 

Sri Mulyani menggarisbawahi kisaran Rp16.500–Rp16.900/US$ kala itu disepakati di tengah ketidakpastian yang tinggi akibat kebijakan tarif perdagangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Hal ini menyebabkan proyeksi mata uang secara global akan melemah. Di sisi lain, situasinya justru berbalik saat ini. Ketidakpastian global menyebabkan dolar AS melemah dan mata uang lainnya menguat.