Tak berhenti di situ, fitur Scam Checker yang diterapkan DANA juga memungkinkan pengguna untuk melakukan pengecekan terhadap nomor ponsel, tautan, hingga akun media sosial yang dianggap mencurigakan, sementara sistem Smart Friction akan memberi peringatan saat pengguna mencoba mengirim dana ke akun yang sudah masuk daftar hitam penipuan.
Di samping itu, DANA juga menyediakan DANA Protection, program penggantian dana 100% untuk pengguna yang menjadi korban penipuan, selama memenuhi syarat dan ketentuan.
Kemitraan dengan Regulator dan Pendekatan Komunitas
DANA juga bekerja erat dengan lembaga penegak hukum dan regulator seperti Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Bank Indonesia, dan PPATK. Aplikasi mereka bahkan terintegrasi dengan platform pelaporan seperti cekrekening.id dan aduannomor.id milik Kementerian Komdigi.
“Jika pengguna yang mau melaporkan nomor ponsel mencurigakan, pengguna bisa mengeceknya melalui Scam Chekcer yang telah terintegrasi dengan AduanNomor.id dari Komdigi. Kami juga terus bekerjasama dengan Bank Indonesia dan Komdigi untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pengguna sejalan dengan arahan serta aturan yang berlaku” tutur dia.
Di samping itu, pendekatan edukasi pun disesuaikan dengan profil mayoritas pengguna yang belum memiliki dan memanfaatkan layanan keuangan formal.
Dalam penjelasan Cary, sebagian besar pengguna DANA berasal dari kalangan yang belum memiliki pengalaman menggunakan layanan keuangan formal. Sehingga, belum terbiasa dengan sistem perbankan dan fitur digital, dan pemahaman mereka terhadap risiko seperti penipuan atau kejahatan digital masih sangat minim.
Oleh karena itu untuk menjangkau mereka, DANA secara rutin turun langsung ke lapangan, hingga ke tingkat kecamatan atau desa, untuk memberikan edukasi langsung dengan pendekatan yang mudah dipahami.
Misalnya, saat menjelaskan bahaya judi online, DANA tidak serta merta menyebutnya sebagai tindakan ilegal, melainkan menjelaskan secara perlahan bahwa hal itu bisa menjerumuskan dan merupakan bentuk penipuan. Bahkan, pendekatan berbasis sosiokultural pun digunakan karena dinilai lebih mengena.
Manfaatkan AI dan Big Data
Dalam menjaga keamanan dan meningkatkan efisiensi operasional, DANA juga telah mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan big data secara menyeluruh. Sistem deteksi penipuan kini sudah berbasis machine learning, bukan hanya aturan statis.
“Teknologi kami sudah mengadopsi AI untuk melakukan deteksi dini terhadap berbagai ancaman. Dengan menggunakan AI, analisisnya menjadi lebih akurat dalam mengetahui pola transaksi mencurigakan. Dengan begitu, kami bisa memitigasi risiko lebih cepat," ungkapnya.
Adapun di sisi layanan pelanggan, layanan pelanggan virtual berbasis AI bernama DIANA telah mampu menangani lebih dari 80% keluhan pelanggan tanpa campur tangan manusia. Di DANA, penggunaan AI juga semakin luas, baik bagi karyawan di divisi teknologi maupun nonteknologi. Setiap karyawan didorong untuk meningkatkan dan mengasah kembali kemampuannya dalam mengimplementasikan teknologi AI. Harapannya, AI bisa membantu meningkatkan performa dan efektivitas dalam proses kerja sehari-hari.
“Dari kacamata risiko itu ada dua macam. Yang pertama, risiko yang harus kita hindari yaitu risiko yang membahayakan perusahaan. Yang kedua, apabila saya tidak mengambil risiko ini, maka saya akan ketinggalan jauh. Bagi saya, AI adalah jenis risiko yang kedua.”
“Kalau saya tidak mengimplementasikan AI, maka baik saya maupun perusahaan mungkin bisa tertinggal jauh dan tidak lagi relevan. Maka dari itu, AI perlu kita adopsi. Saya juga akan mengawal penggunaannya agar sesuai etika dan tata kelola yang baik,” pungkas dia.
(tim)






























