Logo Bloomberg Technoz

Kebijakan moneter saat ini, lanjut Rasheed, “selaras dengan prospek pertumbuhan dan inflasi.”

BNM memperkirakan pertumbuhan dan perdagangan global akan melambat tahun ini seiring berlakunya tarif 19% untuk ekspor ke AS, serta hilangnya dukungan dari pengiriman barang yang dipercepat sebelum tarif berlaku. Meski demikian, perlambatan ekspor sepanjang sisa 2025 diperkirakan akan tertahan sebagian oleh permintaan produk teknologi dan peningkatan aktivitas pariwisata.

Data swap yang dihimpun Bloomberg sebelum pengumuman ini menunjukkan pelaku pasar menilai ada peluang 20% pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam tiga bulan ke depan, dan hampir 70% kemungkinan terjadi sebelum pertengahan Februari. Pada Juli lalu, BNM memangkas suku bunga acuan untuk pertama kali dalam lima tahun guna mengantisipasi risiko perlambatan ekonomi. Bank sentral juga menggelontorkan likuiditas tambahan ke sistem perbankan untuk mendorong penyaluran kredit dan aktivitas ekonomi.

“Kami akan terus memantau dampak penurunan OPR terhadap perekonomian,” ujar Rasheed.

BNM memprediksi konsumsi rumah tangga akan tetap tangguh dan menjadi penopang utama pertumbuhan. Investasi juga diperkirakan bertahan kuat.

Inflasi pada 2025 diproyeksikan berada di kisaran 1,5%–2,3% seiring prospek permintaan dan biaya yang lebih moderat. Bank sentral menegaskan akan “tetap waspada terhadap perkembangan yang terjadi dan menilai keseimbangan risiko terhadap prospek pertumbuhan domestik dan inflasi.”

Meski tarif AS untuk impor dari Malaysia lebih rendah dari ancaman awal 25% pada Juli, pemerintah masih mencari kejelasan dari Washington terkait rencana pengenaan tarif 100% pada impor semikonduktor.

Di sisi fiskal, pemerintah merevisi rencana pengurangan subsidi untuk bahan bakar paling populer di negara itu, sambil tetap memberikan bantuan tunai. Rencana pembangunan lima tahun terbaru juga mencakup belanja pembangunan sekitar US$100 miliar, meski pemerintah berupaya mengurangi defisit anggaran.

(bbn)

No more pages