“Saya sejak awal memperkirakan kenaikan suku bunga pada Oktober, dan sekarang peluangnya terasa meningkat,” ujar Atsushi Takeda, Kepala Ekonom Itochu Research Institute. “Konsensus pasar juga mulai bergeser ke arah kenaikan lebih cepat.”
Taro Kimura, Ekonom Bloomberg Economics, menilai, “PDB kuartal II Jepang yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat alasan BOJ untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, membuktikan bahwa permintaan domestik tetap kokoh meski ada tarif impor AS yang lebih tinggi.”
Yen menguat sesaat setelah data PDB dirilis, naik hingga 0,3% terhadap dolar AS—penguatan tertinggi di antara mata uang utama pada Jumat itu. Saham Jepang juga menguat, dipimpin kenaikan 4% pada Indeks Topix Banks. Sektor keuangan mendapat dorongan dari spekulasi kenaikan suku bunga BOJ yang dapat meningkatkan profitabilitas.
Data PDB kali ini untuk pertama kalinya mencerminkan dampak tarif “timbal balik” dan bea mobil yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump sejak April. Jepang menghadapi tarif dasar 10% serta tarif tambahan 25% untuk mobil, ditambah bea impor baja AS yang semula 25% menjadi 50% pada awal Juni.
“Meski di tengah ketidakpastian akibat tarif AS, investasi bisnis tetap tumbuh stabil,” kata Hiromu Komiya, Ekonom Japan Research Institute.
Pemerintahan Ishiba menyatakan tarif mobil akan disamakan menjadi 15%—setara tarif dasar saat ini—setelah Washington menyesuaikan perintah eksekutif sesuai kesepakatan akhir Juli. Namun awal bulan ini, pemerintah memangkas proyeksi pertumbuhan riil tahun fiskal ini menjadi 0,7% dari 1,2% sebelumnya, sebagian akibat memburuknya prospek ekonomi global imbas kebijakan perdagangan Trump.
Dalam konteks tersebut, ketahanan ekonomi di kuartal II memberi angin segar bagi Ishiba. Koalisi pemerintahannya kehilangan mayoritas di majelis tinggi pada pemilu bulan lalu, sebagian dipicu kekecewaan publik atas terus meningkatnya biaya hidup. Ishiba sejauh ini menolak desakan mundur dari internal partai.
Meski diterpa hambatan perdagangan global, belanja korporasi tetap kuat, sejalan dengan survei Tankan terbaru BOJ yang menunjukkan perusahaan besar berencana meningkatkan investasi 11,5% tahun fiskal ini, jauh di atas estimasi awal 3,1%.
Konsumsi rumah tangga—yang menyumbang hampir 60% PDB—juga sedikit menguat meski inflasi tinggi berkepanjangan. Data sebelumnya menunjukkan pengeluaran rumah tangga naik pada Mei dan Juni, didukung kenaikan gaji hasil negosiasi upah tahun ini yang mulai terasa di slip gaji.
Ekspor bersih menyumbang 0,3 poin persentase terhadap pertumbuhan. Meski dibebani tarif AS, volume ekspor naik 2% karena perusahaan menurunkan harga jual untuk menjaga pangsa pasar dan mempercepat pengiriman sebelum tarif dinaikkan. Pariwisata masuk juga menopang ekspor bersih, dengan belanja wisatawan mancanegara naik 18% pada kuartal ini dan jumlah kedatangan wisatawan di semester I 2025 mencapai rekor tertinggi.
Kuartal III diperkirakan akan lebih terpengaruh tarif karena pengiriman yang dipercepat sudah berhenti. Risiko lain termasuk inflasi yang masih tinggi; data pekan depan diperkirakan menunjukkan kenaikan harga konsumen tetap di atas target BOJ pada Juli.
“Kuncinya ada pada kinerja ekspor,” kata Takeda. “Yang paling penting bagi BOJ adalah melihat tren ekspor mulai Juli.”
Untuk konsumsi pribadi, kenaikan gaji di perusahaan besar Jepang tahun ini melampaui 5%, lebih tinggi dari inflasi. Menurut Komiya, hal ini dapat menjaga daya beli rumah tangga.
“Di sisi konsumen, kami memperkirakan upah riil mulai naik pada musim gugur, dan itu akan memberi dorongan bagi rumah tangga ke depan,” ujarnya.
(bbn)































