Wakil Kepala LPEM FEB UI Bidang Penelitian Jahen F. Rezky mengatakan, hasil laporan pertumbuhan ekonomi tersebut dianggap sangat jauh dari perkiraan dan konsensus para ekonom, terutama soal indikator penopangnya.
"Perbedaan antara forecast (perkiraan) dan aktual memang sangat lumrah, tapi kali ini bedanya sangat besar dan banyak institusi yang [kaget] juga. Itu adalah pertumbuhan yang anomali," ujar dia.
Jahen lantas mengingatkan jika kredibilitas pelaporan data menjadi hal yang sangat penting dalam membangun kepercayaan kepada kalangan masyarakat yang akan penting dalam menopang pertumbuhan ke depan.
Pasalnya, kata dia, dari sisi konsumsi rumah tangga sebagai komponen terbesar produk domestik bruto (PDB) nasional tersebut naik cukup signifikan dibandingkan kuartal pertama yang masih didorong oleh perayaan Lebaran dan Ramadan.
Sebagai perbandingan, pada kuartal pertama, PDB Indonesia tercatat hanya tumbuh sebesar 4,87%. Konsumsi rumah tangga tercatat menjadi penopang utama dengan kenaikan 4,95% secara tahunan. Tetapi, pada PDB kuartal kedua kemudian naik menjadi 5,12%, yang turut didorong oleh konsumsi rumah tangga yang naik 4,97% secara tahunan.
"Kalau pemerintah kredibilitas yang harusnya kita percaya memberikan info yang tidak benar, tidak lagi dipercaya oleh masyarakat akan berbahaya ke depannya. Kita juga sangat menanti klarifikasi yang lebih detil," tutur dia.
(lav)


























