Logo Bloomberg Technoz

Aris mengatakan posisi defisit gas di wilayah Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Sumatra Tengah hingga Jawa Barat telah berlangsung sejak 2024.

Dia memperkirakan kondisi defisit itu bakal berlanjut sampai 2028. Saat itu, SKK Migas menargetkan sejumlah proyek gas strategis mulai produksi komersial atau onstream.

“Kondisi ini diperkirakan akan terus terjadi paling tidak sampai 2028,” kata dia.

Pangsa pasar LNG Indonesia./dok. BMI

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menyarankan pemerintah untuk mengambil opsi impor LNG untuk mengatasi kesenjangan pasokan gas pipa di sejumlah daerah tersebut.

Menurut Komaidi, skema pengalihan LNG ekspor yang telah terikat kontrak jangka panjang dengan pembeli internasional justru mengerek biaya pengadaan LNG di dalam negeri.

“Impor LNG dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah pasokan gas domestik tersebut,” kata Komaidi lewat keterangan tertulis, Kamis (14/8/2025).

Berdasarkan data yang dihimpun Reforminer, harga LNG impor dari Amerika Serikat, Qatar, Malaysia, dan Rusia yang diperdagangkan di pasar Asia relatif kompetitif dengan harga LNG domestik.

Rata-rata harga LNG free on board (FOB) selama periode 2024 dari Amerika Serikat, Qatar, Malaysia, dan Rusia masing-masing sekitar US$7 per per million british thermal unit (MMBtu), US$7 per MMBtu, US$9 per MMBtu dan US$11 per MMBtu.

Pada periode 2024 harga LNG dari Amerika Serikat, Qatar, Malaysia, dan Rusia sampai pada titik serah di pasar Asia masing-masing sekitar US$10,5 per MMBtu, US$11,5 per MMBtu, US$11,5 per MMBtu dan US$12,5 per MMBtu.

Mengacu pada formula harga LNG domestik yang ditetapkan 17,4% dikali rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP), sementara rata-rata ICP 2024 sebesar US$78,14 per barel, maka rata-rata harga LNG domestik selama periode 2024 sekitar US$13,59 per MMbtu.

“Mengacu pada data tersebut, harga LNG impor dari Amerika Serikat, Qatar, Malaysia, dan Rusia dapat dikatakan relatif kompetitif dengan harga LNG domestik,” kata Komaidi.

Dari empat negara itu, menurut Komaidi, Amerika Serikat berpotensi memberikan harga LNG yang lebih kompetitif.

Berdasarkan data, rata-rata harga LNG FoB dari Amerika Serikat selama periode Januari—April 2025 sekitar US$7,73 per MMBtu.

Biaya pengangkutan sampai ke wilayah Asia termasuk Indonesia diperkirakan antara US$2,09 per MMBtu sampai dengan US$4,75 per MMBtu, tergantung kapasitas LNG yang diangkut dan armada yang digunakan.

Dengan menambahkan biaya pengangkutan tersebut, rata-rata harga LNG impor dari Amerika Serikat sampai di wilayah Asia sekitar US$9,82 MMBtu sampai dengan US$12,48 per MMBtu.

“Harga tersebut relatif kompetitif dengan harga LNG domestik pada periode yang sama yang berada pada kisaran 12,51 USD per MMBtu,” tuturnya.

PLN & PGAS Kekurangan Kargo LNG 

Sebelumnya, dua perusahaan gas negara melaporkan kekurangan pasokan kargo LNG untuk menambal proyeksi kebutuhan akhir tahun ini. Sementara, kebutuhan kargo LNG tahun depan diperkirakan meningkat seiring dengan pertumbuhan permintaan pembangkit dan industri.

PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mencatat kebutuhan LNG yang belum diamankan perseroan sebanyak 16 kargo sampai akhir 2025.

Pembangkit Listrik PLN (Dok web.pln.co.id)

Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto mengatakan perseroan saat ini masih menunggu kepastian pasokan tambahan untuk menutup kekurangan tersebut.

“Tahun ini kebutuhan 95 kargo masih kurang 16 kargo LNG untuk September sampai Desember,” kata Rakhmad saat dimintai konfirmasi, Rabu (13/8/2025).

“Kita masih menunggu,” lanjut Rakhmad.

Di sisi lain, dia memproyeksikan, kebutuhan kargo LNG untuk pembangkit PLN tahun depan bakal bergerak ke angka sekitar 110 kargo.

Sementara itu, PGN belakangan turut memperbanyak pasokan LNG sebagai ganti gas untuk industri seiring dengan susutnya pasokan gas pipa dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di Sumatra Selatan.

Adapun, PGN memproyeksikan kebutuhan LNG untuk pelanggan mencapai 12 kargo sepanjang 2025.

Sampai dengan periode yang berakhir Juli 2025, kebutuhan LNG perusahaan gas negara itu baru terpenuhi sebanyak 6 kargo dari kilang domestik, dengan pemanfaatan fasilitas FSRU Lampung dan LNG Hub di Arun.

“Saat ini, sebagian kebutuhan 2025 sudah memiliki kepastian pasokan dari penjual, sementara sisanya sedang difinalisasi,” kata Sekretaris Perusaan PGN Fajriyah Usman saat dikonfirmasi, Rabu (13/8/2025).

Menyusul permintaan yang makin tinggi dari dua perusahaan negara itu, SKK Migas belakangan mengambil jalan untuk menjadwal ulang pengiriman kargo LNG ekspor.

SKK Migas memproyeksikan ekspor LNG tahun ini hanya mencapai 150 kargo, sementara alokasi domestik berjumlah 86 kargo. Tahun lalu, ekspor LNG yang terkontrak ditaksir mencapai sekitar 167—170 kargo.

Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Kurnia Chairi menuturkan lembagannya tengah berupaya mengalihakn sebagian kargo ekspor untuk  pasar domestik.

“Nanti kita susun lagi [...] kita lihat dari proyeksi tadi 150 ekspor kargo masih memungkinkan dialihkan ke domestik atau lainnya,” kata Kurnia saat konferensi pers Kinerja Hulu Migas Tengah Tahun 2025 di Jakarta, Senin (21/7/2025).

Sampai akhir 2025, SKK Migas memproyeksikan produksi LNG dari fasilitas pengolahan Bontang, Kalimantan Timur dan Tangguh, Papua mencapai 237,8 kargo.

Secara terperinci, fasilitas pengolahan LNG Bontang berpotensi memproduksi 53,8 kargo hingga akhir tahun ini. Sementara itu, fasilitas pengolahan LNG Tangguh, diprediksi memproduksi 184 kargo hingga pengujung tahun.

Hanya saja, outlook produksi LNG domestik diperkirakan akan susut seiring dengan rencana perawatan atau turn around Train-1 Kilang Tangguh tahun depan.

BP memproyeksikan produksi dari Kilang Tangguh bakal mengalami penurunan sekitar 10,1 standar kargo LNG pada 2026.

(naw/wdh)

No more pages