Logo Bloomberg Technoz

“Danantara harus tentukan keputusan dalam waktu dekat,” tegas dia.

Jika rencana akuisisi tersebut terwujud, maka Bhima mendorong Danantara untuk mengarahkan GNI mendukung proses operasional smelter yang menghasilkan produk rendah karbon.

Sebagai contoh, kata dia, Danantara dapat mengganti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara milik GNI dengan energi terbarukan. Hal itu, dapat ditempuh agar menjamin nikel yang diolah GNI memiliki harga jual tinggi di pasar.

Selanjutnya, Bhima juga mendorong agar Danantara mengarahkan GNI untuk mengintegrasikan rantai pasoknya dengan industri baja nirkarat domestik. Dengan begitu, produk nikel hasil olahan GNI dapat diprioritaskan untuk mendukung kebutuhan domestik.

“Integrasikan rantai pasok GNI dengan industri baja domestik salah satunya dengan Krakatau Steel. Jadi pengolahan domestiknya bisa mendukung hilirisasi penuh,” tegas dia.

Sebelumnya, anggota Dewan Penasihat Pertambangan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Djoko Widajatno menyebut Danantara berpeluang membentuk konsorsium dengan perusahaan China untuk bekerja sama mengakuisisi aset smelter nikel milik GNI.

Saat ini, menurut informasi yang dia himpun, Danantara dikabarkan masih menunggu persetujuan pemangku kepentingan dan proses due diligence.

“Proses ini sedang dalam tahap evaluasi dan due diligence, dengan rencana kerja sama bersama MIND ID, induk BUMN pertambangan, sebagai mitra utama dalam akuisisi tersebut,” kata Djoko ketika dihubungi, dikutip Selasa (12/8/2025).

Djoko juga berpendapat terdapat kemungkinan Danantara bekerja sama dengan perusahaan asal China, sebab akuisisi GNI diperkirakan memakan biaya yang cukup besar. Akan tetapi, dia belum mendapatkan kabar terbaru perundingan pendanaan dari konsorsium keuangan tersebut.

“Sementara data [informasi] di atas yang kami peroleh, mungkin saja terjadi konsorsium dari China yang akan bekerja sama dengan Danantara,” kata Djoko.

Menurut Djoko, Danantara akan menyiapkan pendanaan awal akuisisi GNI sekitar US$20 miliar. Selain dari Danantara, kata Djoko, pendanaan untuk GNI berasal dari kredit sindikasi senilai US$60 juta untuk mendukung likuiditas jangka menengah.

“Hingga saat ini PT GNI masih resmi berada di bawah Jiangsu Delong Nickel Industry Co., induk perusahaan asal China,” ujarnya.

Adapun, Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara Rosan Roeslani sebelumnya mengonfirmasi tengah membuka peluang mengakuisisi smelter PT GNI, yang notabene merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN) hilirisasi nikel. Rencana investasi itu saat ini tengah dikaji.

Rosan menyatakan Danantara memang tengah mengkaji investasi ke proyek hilirisasi serupa. Jika smelter milik anak usaha Jiangsu Delong itu masuk kedalam kriteria investasi, tegasnya, Danantara bisa saja berinvestasi di PT GNI.

“Kan ada beberapa proyek yang on the pipeline yang kita lihat. Ya kita lihat aja kalau yang memang feasible dan memang baik, ya kita kaji semua kok," kata Rosan ketika ditemui di Kementerian ESDM, Selasa (22/7/2025).

(azr/wdh)

No more pages