Pekan lalu, Bloomberg News melaporkan bahwa pejabat AS dan Rusia sedang mengupayakan kesepakatan terkait wilayah Ukraina untuk dibahas dalam pertemuan puncak antara Donald Trump dan Putin di Alaska, mengutip sumber yang mengetahui rencana tersebut. Ukraina dan sekutunya di Eropa mendorong penghentian pertempuran dan pembekuan garis depan saat ini sebagai langkah awal menuju penyelesaian yang lebih permanen.
Trump pada Senin menurunkan ekspektasi atas pertemuannya dengan Putin, menyebutnya sebagai “pertemuan penjajakan” dan mengatakan akan berkonsultasi dengan para pemimpin Ukraina dan Eropa setelahnya. Presiden AS yang berjanji mengakhiri perang segera setelah menjabat itu mengatakan ia akan memaparkan kerangka kesepakatan yang mencakup pertukaran wilayah yang dinegosiasikan dengan Putin—atau menyatakan tidak melihat peluang terjadinya kesepakatan damai.
“Saya tidak tahu apa yang akan dibicarakan tanpa kami. Mereka mungkin punya jalur bilateral,” kata Zelenskiy, yang tidak diundang ke pertemuan puncak tersebut. “Isu Ukraina harus dibicarakan setidaknya oleh tiga pihak.”
Ia menambahkan, Eropa juga harus dilibatkan karena Ukraina ingin bergabung dengan Uni Eropa.
Zelenskiy bersama para pemimpin Prancis, Jerman, Inggris, Italia, Polandia, dan Finlandia akan mengadakan panggilan konferensi dengan Trump dan Wakil Presiden AS JD Vance pada Rabu (13/8), menjelang pertemuan dengan Putin. Para pemimpin Uni Eropa menegaskan pekan ini bahwa setiap perjanjian damai harus “menghormati hukum internasional, termasuk prinsip kemerdekaan, kedaulatan, dan integritas wilayah,” serta menegaskan perbatasan internasional tidak boleh diubah dengan kekerasan.
Tuntutan Konsesi
Rusia meningkatkan serangan udara terhadap Ukraina dalam beberapa bulan terakhir, sementara pasukannya perlahan maju di wilayah timur dalam perang yang berlangsung lambat namun menggerus. Zelenskiy menilai Moskow berupaya membangun narasi bahwa “Rusia maju dan Ukraina kalah” menjelang KTT Alaska.
“Bulan ini, mereka akan mencoba menunjukkan kemajuan di semua arah untuk memberi tekanan politik kepada Ukraina, menuntut konsesi,” kata Zelenskiy. “Kami paham hal itu dan pasukan kami bersiap menghadapinya.”
Zelenskiy mengungkapkan, Rusia dengan mempersiapkan serangan militer baru setelah 15 Agustus dengan memindahkan sekitar 30.000 tentara ke wilayah selatan Zaporizhzhia dan Donetsk dari wilayah utara Sumy.
“Kami memperkirakan mereka akan siap dengan brigade tersebut sebelum September,” ujarnya, seraya menambahkan pasukan tambahan Rusia mungkin siap pada November.
Ukraina masih kalah jumlah artileri dibanding Rusia dengan rasio 1:2,4. Namun, Kyiv memiliki keunggulan dalam penggunaan drone First-Person View (FPV) yang memungkinkan pilot memantau medan tempur secara langsung, dengan rasio 2,4:1 yang bisa meningkat menjadi 2,5:1 jika sekutu membantu pendanaan produksi.
Ukraina juga telah menyepakati pembelian senjata AS senilai 1 hingga 1,5 miliar dolar AS per bulan.
“Besok, kami akan berbicara dengan pihak Eropa dan AS,” kata Zelenskiy. “Saya akan menyampaikan pesan bahwa semua isu sensitif terkait Ukraina harus dibahas dengan kehadiran Ukraina.”
(bbn)






























