Obligasi pemerintah AS menguat dan indeks berjangka S&P 500 naik seiring para pelaku pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve atau The Fed akan menurunkan suku bunga bulan depan. Dolar AS melemah.
Peningkatan kembali biaya jasa, setelah beberapa bulan data lebih moderat, menyoroti kesulitan yang terus berlanjut dalam mengendalikan inflasi. Para ekonom dan pembuat kebijakan sebagian besar khawatir akan harga barang akibat tarif besar-besaran Presiden Donald Trump, tetapi permintaan konsumen berisiko memperburuk inflasi jasa.
Kenaikan harga jasa yang berkelanjutan akan menimbulkan tantangan tambahan bagi para pejabat The Fed saat mereka mendiskusikan apakah tarif akan menekan inflasi lebih lanjut pada barang.
Para pembuat kebijakan mempertahankan suku bunga tahun ini karena mencari keyakinan lebih lanjut bagaimana tarif akan berdampak pada inflasi—menolak seruan berulang kali Trump untuk memangkas suku bunga.
Biaya Jasa
Salah satu pendorong utama inflasi beberapa tahun terakhir adalah biaya perumahan—kategori terbesar dalam sektor jasa. Harga ruma naik 0,2% selama dua bulan, mencerminkan biaya perumahan stabil dan harga penginapan hotel terus turun.
Indeks jasa lain yang dipantau ketat oleh The Fed, tanpa memperhitungkan biaya perumahan dan energi, naik 0,5%, salah satu laju kenaikan terkuat sejak awal 2024. Meski para bankir sentral menekankan pentingnya melihat indikator tersebut saat menilai tren inflasi secara keseluruhan, mereka menghitungnya berdasarkan indeks terpisah.
Indikator tersebut—yang dikenal sebagai indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE)—tidak memberikan bobot sebesar CPI pada perumahan. Laporan pemerintah tentang harga produsen yang dijadwalkan Kamis akan memberikan wawasan mengenai kategori tambahan yang secara langsung memengaruhi PCE, yang dirilis akhir bulan ini.
Setelah bulan-bulan tarif berubah-ubah, kenaikan suku bunga di hampir semua negara dimulai pekan lalu. Hal ini mungkin akan terus menekan angka inflasi ke depannya, meski Trump terus bernegosiasi dengan beberapa mitra dagang utama seperti China.
Beberapa perusahaan menunda kenaikan harga karena khawatir konsumen akan mengurangi pengeluaran, yang akan meningkatkan minat terhadap laporan penjualan ritel dan sentimen konsumen pada Jumat.
Bank sentral juga memperhatikan pertumbuhan upah karena bisa membantu memperkirakan ekspektasi belanja konsumen—penggerak utama ekonomi. Laporan terpisah pada Selasa yang menggabungkan data inflasi dengan data upah terbaru menunjukkan pendapatan riil rata-rata per jam naik 1,4% dari tahun sebelumnya, pulih dari penurunan pada Juni.
Laporan tersebut dikeluarkan setelah Trump menunjuk EJ Antoni, kepala ekonom dari Heritage Foundation yang konservatif, memimpin BLS setelah memecat kepala lembaga tersebut awal bulan ini. Antoni secara terbuka mengkritik data dan revisi BLS. Trump menuduh lembaga tersebut, tanpa bukti, memanipulasi angka-angkanya.
(bbn)




























