"Mengajarkan anak untuk menggunakan perangkat lunak atau mengakses informasi bukan lagi cukup. Yang lebih mendesak adalah membekali mereka dengan kesadaran kritis terhadap algoritma, perlindungan privasi, hingga pemahaman kontekstual seputar etika berteknologi,” paparnya.
Sebagai bagian dari solusi jangka panjang, Lalu menilai penting adanya pendidikan yang membangun daya tahan anak terhadap dampak negatif dunia digital. Ia mengingatkan bahwa tidak semua hal yang populer dan mudah diakses di internet layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak.
“Anak-anak harus memahami bahwa tidak semua yang viral itu benar, tidak semua yang gratis itu aman, dan tidak semua yang disukai algoritma itu layak diikuti," tutupnya.
Pelarangan Roblox bagi anak-anak ini diwacanakan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Hal ini lantas mendapatkan berbagai reaksi di masyarakat.
Pelarangan permainan Roblox awalnya didasari sebagai langkah antisipatif terhadap maraknya konten kekerasan dan visual yang tidak sesuai usia dalam game tersebut, yang dinilai berpotensi mengganggu perkembangan karakter dan moral anak-anak.
(dec/spt)































