Logo Bloomberg Technoz

Kamar Dagang AS memperkirakan negaranya memiliki sekitar 236.000 importir usaha kecil—yang mempekerjakan kurang dari 500 karyawan. Barang yang mereka beli dari luar negeri bernilai lebih dari US$868 miliar pada 2023. 

Berdasarkan perkiraan sebelum tarif Trump berlaku 7 Agustus, total tarif tahunan yang dibebankan pada perusahaan-perusahaan tersebut mencapai US$202 miliar, menurut Kamar Dagang, kelompok lobi bisnis terbesar AS. Angka itu setara dengan sekitar US$856.000 per perusahaan per tahun.

Harga Konsumen

Menurut catatan riset ekonom Goldman Sachs pada Minggu, hingga Juni, pelaku bisnis AS menanggung lebih dari setengah biaya tarif Trump, sedangkan sisanya ditanggung eksportir asing dan konsumen AS. Dalam beberapa bulan ke depan, beban akan beralih dari importir dan porsi yang ditanggung konsumen akan naik menjadi 67%.

Sampai saat itu, Federasi Ritel Nasional (NRF) menyuarakan kekhawatiran Kamar Dagang AS, dengan mengunggah serangkaian cerita di situs webnya tentang para pengusaha yang khawatir tidak akan mampu bertahan dari rencana Trump untuk merestrukturisasi sistem perdagangan global menggunakan tarif.

"Usaha kecil khususnya sedang berjuang agar bisnisnya tetap beroperasi," kata Jonathan Gold, Wakil Presiden NRF untuk Kebijakan Rantai Pasokan dan Bea Cukai, dalam pernyataan pekan lalu.

Kontainer masuk ke AS diperkirakan anjlok pada September. (Bloomberg)

NRF dan Hackett Associates menerbitkan laporan bulanan dalam Global Port Tracker mereka yang memprediksi penurunan tajam impor AS mulai September setelah melonjak pada paruh pertama—perubahan arah terkait dengan "pendekatan Washington yang tidak konsisten dalam menerapkan tarif," kata Pendiri Hackett Associates, Ben Hackett.

'Terpinggirkan'

Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai mengatakan perusahaan AS, baik kecil maupun besar, "secara tidak adil terpinggirkan dari pasar asing selama beberapa dekade akibat perjanjian perdagangan 'bebas' sepihak yang menggeser industri dan pekerja AS ke belakang," ujarnya.

Trump menggunakan tarif dan leverage ekonomi, kata Desai, "untuk mengubah aturan perdagangan global dan memastikan akses lebih adil bagi ekspor industri dan pertanian AS ke negara-negara yang secara total memiliki ekonomi senilai US$32 triliun dan 1,2 miliar penduduk."

Namun, bagi pelaku bisnis AS, bukan hanya tarif lebih tinggi yang menjadi masalah, "melainkan gangguan operasional dan ketidakpastian yang berisiko ditimbulkan dari kebijakan baru ini," kata John Denton, Sekretaris Jenderal Kamar Dagang Internasional.

"Bahkan perusahaan multinasional dengan fungsi kepatuhan perdagangan yang canggih pun kesulitan memahami tarif mana yang akan berlaku pada pengiriman barang mengingat kebijakan yang berlaku saat ini begitu kompleks—serta ketidakpastian yang terus berlanjut mengenai bagaimana ketentuan inti akan ditegakkan," kata Denton.

'Panduan Lebih Jelas'

Dia mendesak pemerintahan Trump untuk "memberikan panduan yang lebih jelas tentang implementasinya—terutama untuk memastikan bahwa usaha kecil tidak dirugikan oleh birokrasi semata."

Kurangnya kejelasan dalam implementasi tarif timbal balik Trump telah menimbulkan kebingungan.

Keputusan CBP memberlakukan tarif pada impor emas tertentu—diumumkan secara rahasia dalam surat kepada perusahaan pemurnian emas Swiss pada 31 Juli dan dipublikasikan pada Jumat—membuat harga emas batangan berjangka di New York melonjak ke rekor tertinggi.

Kemudian, harga anjlok dengan cepat setelah pemerintahan Trump menyatakan bahwa impor batangan emas tidak akan dikenai tarif sama sekali.

"Dulu kita punya kebijakan dagang yang cukup sederhana: Sebagian besar negara memiliki status negara paling disukai, sehingga tarifnya sama bagi setiap negara, dan Bea Cukai mengemban tugas yang cukup sederhana," kata Paul Krugman, peraih Nobel dan profesor terkemuka di City University of New York, dalam wawancara dengan Bloomberg Television pada Jumat.

"Apa yang kita lihat adalah gejala dari kebijakan perdagangan yang terlalu kompleks untuk ditangani oleh birokrasi."

(bbn)

No more pages