Pemimpin redaksi Al Jazeera, Mohamed Moawad, mengatakan kepada BBC bahwa al-Sharif adalah jurnalis terakreditasi yang menjadi “satu-satunya suara” bagi dunia untuk mengetahui apa yang terjadi di Jalur Gaza.
Selama perang, Israel melarang jurnalis internasional masuk ke Gaza untuk meliput secara bebas. Akibatnya, banyak media internasional bergantung pada laporan jurnalis lokal di wilayah tersebut.
“Mereka diserang di dalam tenda, bukan di garis depan,” kata Mohamed Moawad, pemimpin redaksi Al Jazeera kepada program The Newsroom BBC. “Faktanya, pemerintah Israel ingin membungkam semua saluran pemberitaan dari dalam Gaza. Ini sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya dalam sejarah modern.”
Bulan lalu, Al Jazeera, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan CPJ masing-masing mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan bahwa nyawa al-Sharif terancam dan menyerukan perlindungan baginya.
Jurnalis berusia 28 tahun itu tampak sempat mengunggah pesan di X beberapa saat sebelum tewas, memperingatkan adanya pemboman intensif di Gaza. Sebuah unggahan yang muncul setelah kabar kematiannya diduga telah ditulis sebelumnya dan dipublikasikan oleh temannya.
Total tujuh orang tewas dalam serangan tersebut, menurut lapiran Al Jazeera. Awalnya, mereka melaporkan empat stafnya tewas, namun kemudian merevisi jumlahnya menjadi lima.
Dalam pernyataannya, IDF menuduh al-Sharif “menyamar sebagai jurnalis” dan mengklaim sebelumnya telah mempublikasikan “informasi intelijen” yang menunjukkan keterlibatannya di sayap militer Hamas, termasuk “daftar pelatihan teroris”.
Ini bukan pertama kalinya IDF menargetkan dan menewaskan jurnalis Al Jazeera di Gaza dengan tuduhan berafiliasi dengan Hamas. Pada Agustus tahun lalu, Ismael al-Ghoul tewas akibat serangan udara saat berada di dalam mobilnya. Rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan tubuhnya yang terpenggal. Juru kamera Rami al-Rifi dan seorang anak laki-laki yang lewat dengan sepeda juga ikut tewas.
Dalam kasus al-Ghoul, IDF menuduhnya terlibat dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel, klaim yang dibantah keras oleh Al Jazeera.
Menurut CPJ, sejak awal serangan militer Israel di Gaza pada Oktober 2023, setidaknya 186 jurnalis telah dipastikan tewas.
(del)
































