Pemerintah Thailand menyatakan akan mengajukan protes terhadap Kamboja atas pelanggaran Konvensi Ottawa yang melarang penggunaan ranjau anti-personel.
Pasukan Thailand dan Kamboja bertempur selama lima hari pada akhir Juli, menggunakan jet tempur, rudal, dan artileri berat, sebelum Malaysia menjadi penengah gencatan senjata yang didukung oleh AS dan China.
Bentrokan tersebut menewaskan lebih dari 40 orang, melukai banyak orang lainnya, dan menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi dari wilayah perbatasan di kedua negara.
Perselisihan ini didahului oleh ketegangan perbatasan yang memanas selama berbulan-bulan, di mana setidaknya dua tentara Thailand terluka akibat ranjau darat.
Pekan lalu, pejabat keamanan senior dari Kamboja dan Thailand menyepakati langkah-langkah untuk menegakkan gencatan senjata dan meredakan ketegangan.
Mereka juga menerima pemantauan netral terhadap gencatan senjata oleh tim atase pertahanan dari negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara.
Ketegangan Thailand-Kamboja bermula dari perjanjian era kolonial yang menetapkan batas wilayah mereka dan peta yang dihasilkan yang menggambarkannya secara berbeda.
Kedaulatan beberapa wilayah di sepanjang perbatasan yang disengketakan sepanjang kurang lebih 800 kilometer (500 mil) masih menjadi titik pertikaian, dan berbagai upaya untuk menetapkan batas wilayah tersebut belum membuahkan hasil.
Hubungan kedua negara telah stabil sejak bentrokan pada 2011 yang menewaskan puluhan orang, sebelum pertempuran baru bulan lalu.
(bbn)


























