Dia menilai kebijakan tarif yang diputus Trump akhir-akhir ini memang tidak tertebak, sebagaimana yang diancamkan terhadap India. Negeri Taj Mahal tersebut harus menanggung tarif tambahan sebesar 25% karena masih mengimpor migas dari Rusia.
Terkait dengan itu, Moshe memandang Indonesia merupakan negara nonblok yang sebenarnya dapat melakukan kesepakatan dagang dengan negara manapun.
“Kita punya hak untuk berdagang dengan siapapun. Tanpa ada restriksi dari siapapun. Tanpa ada ancaman dari siapapun. Kebebasan berdagang ini harusnya kita pegang teguh,” tegas dia.
Moshe pun memandang pemerintah dapat memanfaatkan keanggotaan Indonesia di BRICS dalam rangka menghadapi tekanan tarif dari AS.
Dia optimistis dengan sikap Indonesia yang tetap eksis di G20 meskipun bergabung BRICS dapat menjadi modal kuat untuk membuat kongsi perdagangan untuk menghadapi AS.
“Kita juga masuk ke BRICS. Itu kan menunjukkan kita netral. Menunjukkan kita ya fleksibel, bisa kemana-mana. Jadi enggak boleh ada yang mengatur kita, untuk harus lebih ke sini, lebih ke sana. Nanti netralitas kita jadi terganggu,” tegas dia.
Banyak Mudarat
Berbeda pandangan, Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC) Hadi Ismoyo menilai pemerintah perlu mengkaji ulang rencana impor komoditas migas Rusia, usai AS mengganjar India dengan tarif tambahan sebesar 25% akibat masih berelasi dagang dengan Kremlin.
Dia menyatakan tarif tambahan kepada India tersebut menjadi pelajaran serius bagi Indonesia, yang juga sedang menjalin kesepakatan dagang terkait dengan negosiasi tarif AS.
Dia khawatir Indonesia akan bernasib yang sama dengan Negeri Bollywood, jika wacana impor migas dari Rusia tetap dilanjutkan.
“Jika melanggar, ganjaran tambahan tarif akan makin menyulitkan RI. Semua pihak harus kepala dingin menghadapi zig zag politik Trump ini. Akan lebih baik menjalankan tarif kesepakatan yang sudah ada, sambil mengatur strategi ke depan,” kata Hadi ketika dihubungi, Sabtu (9/8/2025).
Menurut Hadi, impor minyak mentah dari Rusia hanya akan menguntungkan dari sisi harga beli yang terbilang rendah.
Harga minyak Rusia bisa lebih rendah US$13 per barel dibandingkan dengan rata-rata harga minyak dunia.
Akan tetapi, terang Hadi, harga tersebut belum memperhitungkan biaya tambahan seperti biaya logistik, asuransi, dan syarat atau ketentuan lainnya.
“Secara keseluruhan juga banyak mudaratnya daripada manfaatnya karena keterkaitan bisnis [Indonesia] dengan AS, yang tidak mudah diputus begitu saja,” tegasnya.
Untuk itu, Hadi memandang jika wacana impor minyak mentah Rusia baru memasuki tahapan tender, sebaiknya pemerintah mengkaji lebih lanjut syarat dan ketentuan impor tersebut serta mempertimbangkan ancaman tarif tambahan dari AS sebagaimana yang dialami oleh India.
“Saya yakin Pertamina sudah beberapa kali untuk mencoba mendatangkan minyak Rusia. So far tantangan bisnis dan komersialnya sangat berat, apalagi ditambah ancaman tarif,” tegas dia.
Indonesia sendiri diganjar tarif sebesar 19%, lebih rendah dari sebelum pemerintah berunding dengan AS, yakni sebesar 32%. Salah satu kesepakatan yang diteken RI-AS yakni kebijakan impor komoditas energi dengan alokasi nilai sekitar US$10 miliar—US$15 miliar.
Adapun, Presiden AS Donald Trump menambah tarif sebesar 25% atas barang-barang India karena masih terus membeli energi Rusia. Pungutan tambahan ini memperburuk perselisihannya dengan mitra utama Asia menjelang bea masuk AS yang tinggi berlaku.
Gedung Putih mengatakan Trump menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan tarif baru, yang mengerek tarif 25% untuk impor India yang diumumkan Trump pekan lalu. Menurut perintah tersebut, bea masuk lebih tinggi akan berlaku dalam 21 hari.
Aksi Trump ini terjadi beberapa jam setelah diskusi Washington dan Moskwa mengenai perang di Ukraina gagal mencapai terobosan langsung.
Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan negaranya menjadi sasaran AS secara tidak adil, membela konsumsi minyak Rusia sebagai hal yang diperlukan untuk menopang ekonominya. Hal ini belum meyakinkan Trump.
Untuk diketahui, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mensinyalir Indonesia makin serius untuk mengeksekusi rencana impor minyak mentah dan gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) dari Rusia.
Hal tersebut disampaikan usai kunjungan delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto untuk menemui Presiden Rusia Vladimir Putin di St. Petersburg pada 18—20 Juni 2025.
“Sudah ada tim dari Rusia yang akan datang ke Indonesia untuk memulai menindaklanjuti apa yang diomongkan [pertemuan bilateral] minggu lalu,” kata Bahlil dalam wawancara dengan Liputan6 TV, akhir bulan lalu.
Dia menggarisbawahi harga yang ditawarkan Rusia harus lebih murah atau kompetitif dibandingkan dengan negara lain.
Di sisi lain, Indonesia memang harus mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada, tetapi tetap membutuhkan kerja sama dengan negara lain.
“Kalau kerja sendiri saya yakin optimalisasinya tidak akan semaksimal kalau kita melakukan kolaborasi dengan teman-teman investor dari luar,” tuturnya.
Tender Rusia
Dalam kesempatan sebelumnya, PT Pertamina (Persero) mengungkapkan Indonesia sudah mulai mengeksekusi impor minyak mentah dari Rusia, setelah lama menjadi wacana pemerintah.
Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Taufik Aditiyawarman mengonfirmasi kebijakan impor minyak mentah dari Rusia “masih dibuka” pemerintah, dan akan dilakukan sesuai dengan prosedur dan persyaratan yang berlaku.
PT KPI sudah terlebih dahulu mendata kebutuhan minyak mentah untuk kilang-kilang perseroan dan pengadaannya dilakukan melalui lelang terbuka, termasuk untuk minyak mentah dari Rusia.
Taufik mengungkapkan proses tender pengadaan minyak mentah untuk KPI pun telah dibuka sejak Mei tahun lalu, dan beberapa minyak asal Rusia telah masuk. Meski demikian, dia tidak mendetailkan volumenya.
“Termasuk crude Rusia. Ada beberapa crude Rusia yang masuk. Kita juga akan sesuai dengan peraturan OPEC-nya. [...] Tetap harus mengikuti aturan itu,” ujarnya saat ditemui di agenda IPA Convex di ICE BSD, Rabu (21/5/2025).
Adapun, mekanisme impor minyak Rusia akan dilakukan untuk serapan langsung ke kilang, bukan tangki penyimpanan atau storage.
(wdh)































