Logo Bloomberg Technoz

Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, maraknya fenomena 'Rojali' atau rombongan jarang beli di pagelaran otomotif bergengsi ini terjadi karena beberapa faktor

"Pertama, kondisi pertumbuhan makro ekonomi yang masih memberat, sehingga daya beli kelompok middle-low income class [kelas berpenghasilan menengah-bawah] sebagai pembeli terbesar mobil menurun," katanya pada Bloomberg Technoz, dikutip Rabu (6/8/2025).

Yannes menyebut, kenaikkan harga mobil terjangkau yang rerata naik sekitar 7% per tahun untuk kelompok kendaraan LCGC (Low Cost Green Car), telah melebihi kenaikan pendapatan masyarakat.

Dia mengatakan kenaikan harga mobil yang tidak linear dengan pendapatan masyarakat menjadi akar masalah krisis struktural yang terjadi.

"Ini menjadi indikasi kuat terjadinya intention-action gap [kesenjangan niat-tindakan] selama ini. Masyarakat Indonesia, terutama kelas menengah bawah, sangat sensitif terhadap perubahan ekonomi," tambahnya.

Lantaran faktor tersebut, tak ayal membuat Rojali juga terjadi di GIIAS tahun 2025 ini. Yannes menjelaskan, kebijakan dari principal terkait industri parts yang ada di dalam negeri, inflasi, pelemahan kurs, kebijakan bertingkat pajak sampai dengan berbagai pungutan-biaya, akan menyebabkan kenaikkan harga kendaraan.

"Dampak dari kesenjangan ini dirasakan secara langsung oleh konsumen target yang sangat sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi. Bagi mereka, kenaikan harga puluhan juta rupiah bukanlah sekadar ketidaknyamanan, melainkan sebuah penghalang yang efektif memupus kemampuan mereka untuk membeli," jelasnya.

"Tekanan harga ini diperparah oleh inflasi pada kebutuhan pokok yang terus menggerus pendapatan siap belanja (disposable income). Sehingga kapasitas untuk menabung demi pembelian besar seperti mobil menjadi semakin terbatas," pungkasnya.

Diketahui, pameran otomotif bergengsi ini berhasil menjadi magnet para pelaku dan pecinta otomotif. Tercatat lebih dari 60 merek otomotif global turut berpartisipasi.

Seperti, 40 merek kendaraan penumpang, 4 merek kendaraan komersial, 17 merek sepeda motor, serta 4 perusahaan karoseri. Tidak hanya itu, lebih dari 120 merek industri pendukung, termasuk pelaku UMKM otomotif, juga hadir memamerkan inovasi dan teknologi terkini di GIIAS 2025.

Setelah pameran di BSD City Tangerang, GIIAS The Series akan dilanjutkan ke sejumlah kota. Rangkaian kedua akan dimulai dengan GIIAS Surabaya, yang akan diselenggarakan pada 27-31 Agustus 2025 di Grand City Convex, Surabaya.

Selanjutnya, GIIAS Semarang akan berlangsung pada 24-28 September 2025 di Muladi Dome, Semarang, dan GIIAS Bandung akan dilaksanakan pada 1-5 Oktober 2025 di Sudirman Grand Ballroom, Bandung. 

Seri Pameran ini akan ditutup dengan GIIAS Makassar pada 5-9 November 2025 di Summarecon Mutiara Makassar.

(ain)

No more pages