Logo Bloomberg Technoz

Ancaman Trump ini muncul menjelang batas waktu 8 Agustus bagi Rusia untuk mencapai gencatan senjata dengan Ukraina. Pemerintah AS mengancam akan menjatuhkan sanksi sekunder terhadap negara-negara yang membeli energi Rusia.

Sekutu Ukraina memandang pembelian tersebut sebagai upaya untuk menopang ekonomi pemimpin Rusia Vladimir Putin dan melemahkan tekanan terhadap Moskow untuk mengakhiri perang yang kini memasuki tahun keempat.

PM India Narendra Modi dan Presiden Rusia Vladimir Putin. (Sumber: T. Narayan/Bloomberg)

India menjadi target utama Trump dalam upaya untuk mengakhiri perang. Perdana Menteri Narendra Modi—yang sebelumnya memiliki hubungan hangat dengan Trump—menantang, menyerukan warga India untuk membeli produk lokal dan mengisyaratkan negaranya akan terus membeli minyak Rusia.

Dalam sebuah unggahan media sosial pada Senin malam, Kementerian Luar Negeri India mengecam Uni Eropa dan AS karena terus membeli energi dan bahan lain dari Rusia, padahal "perdagangan semacam itu bahkan bukan kewajiban nasional."

Kementerian tersebut mencatat India mulai membeli minyak dari Rusia karena pasokan tradisional dialihkan ke Eropa setelah perang dimulai, dan AS "mendorong impor semacam itu."

"Penargetan India tidak bisa dibenarkan dan tidak masuk akal," kata Kemenlu. "Seperti negara ekonomi besar lainnya, India akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasional dan keamanan ekonominya."

India menjadi pembeli utama minyak mentah Rusia sejak invasi Ukraina tahun 2022, didorong oleh diskon yang ditawarkan. Menurut data pelacakan kapal tanker yang dihimpun Bloomberg, negara tersebut rata-rata sudah membeli minyak mentah Rusia dengan volume sekitar 1,7 juta barel per hari hingga saat ini.

Data Kpler yang dihimpun Bloomberg menyebut India mengekspor sekitar 1,4 juta barel bahan bakar olahan per hari pada paruh pertama tahun ini. Kargo solar menyumbang sekitar 40% dari total ekspor bahan bakar, sedangkan bensin dan komponen campurannya mencapai sekitar 30% dari pengiriman.

Namun, sulit untuk mengukur berapa banyak ekspor minyak India yang khusus berasal dari minyak mentah Rusia karena kilang minyak umumnya menyerap berbagai jenis minyak mentah dan kemudian menjual bahan bakar yang lebih beragam lagi.

Uni Eropa baru-baru ini meluncurkan paket sanksi yang akan melarang pembelian bahan bakar yang diproduksi dari minyak mentah Rusia, tetapi para pelaku pasar masih menunggu penjelasan bagaimana langkah-langkah tersebut akan diterapkan dalam praktiknya.

Setidaknya empat kapal tanker membongkar jutaan barel minyak mentah Rusia di kilang-kilang India pada akhir pekan lalu, pertanda bahwa pengiriman yang diawasi ketat tersebut terus berlanjut seperti biasa.

Gangguan dalam pembelian minyak Rusia oleh India bisa memaksanya mencari pasokan dari tempat lain. Pekan lalu, menurut sumber yang mengetahui, perusahaan pengolah minyak terbesar di negara itu membeli beberapa juta barel minyak mentah dari AS dan Uni Emirat Arab (UEA) secara besar-besaran dan tiba-tiba, yang rencananya akan dikirim relatif cepat.

Berdasarkan tenggat waktu yang diberikan Trump pada Putin untuk menghentikan pertempuran di Ukraina, sanksi sekunder yang menargetkan pembeli minyak Rusia akan berlaku pada Jumat (8/8/2025).

"Sanksi dan tarif sekunder pada negara-negara yang membiayai perang ini—seperti China, India, dan Brasil—dengan membeli minyak produksi Rusia, merupakan langkah selanjutnya yang jelas untuk mencoba mengakhiri perang ini," kata Matt Whitaker, Duta Besar AS untuk NATO, kepada Bloomberg Television.

"Ini benar-benar akan berdampak besar pada mereka, terutama pada sumber pendapatan utama mereka, yaitu penjualan minyak ke negara-negara tersebut."

Kapal tanker Eagle S yang ditahan, yang merusak kabel bawah laut di Laut Baltik dan diduga memuat minyak Rusia./Bloomberg-Roni Rekomaa

Perundingan Dagang

Tarif Trump yang semakin tinggi mengejutkan India setelah berbulan-bulan negosiasi. Trump sudah mengintensifkan retorikanya terhadap India, mengecam tarif dan hambatan lain terhadap barang-barang AS.

Dia juga mengecam pembelian energi India dari Rusia dan partisipasinya dalam kelompok ekonomi berkembang BRICS, terutama pertimbangan blok tersebut terhadap alternatif selain dolar AS.

Pemerintah India telah menyatakan niatnya untuk melanjutkan perundingan dengan AS dengan harapan mendapat tarif lebih rendah. India sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan pembelian gas alam dari AS dan meningkatkan impor peralatan komunikasi dan emas. 

Para pejabat memandang langkah tersebut untuk mengurangi surplus perdagangan India dengan AS, yang menjadi perhatian utama Trump. Menurut data dari Dana Moneter Internasional (IMF), AS mengalami defisit perdagangan dengan India sekitar US$43 miliar tahun lalu, terbesar ke-11.

Namun, terdapat banyak hambatan, di mana Modi enggan membuka sektor-sektor sensitif seperti pertanian dan susu bagi AS.

Hubungan antara Modi dan Trump memburuk di masa jabatan kedua Presiden AS. Setelah India dan Pakistan bentrok awal tahun ini, Trump mengancam akan memblokir akses ke pasar AS jika kedua negara tidak menghentikan pertempuran. Trump mengklaim tindakannya membawa perdamaian—pemikiran yang membuat pemerintahan Modi marah.

Tekanan pada Rusia

India terjebak di tengah meningkatnya fokus Trump untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina. Trump berjanji akan segera mengakhiri invasi Rusia, tetapi upaya tersebut dihalangi Putin, yang hanya mengajukan tuntutan maksimal atas wilayah Ukraina dan menolak diskusi tatap muka dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.

Trump semakin frustrasi dengan Putin, yang memicu ancaman terbaru untuk menjatuhkan sanksi ekonomi pada Moskow. Sebelumnya, dia pernah mengusulkan sanksi lebih keras, tetapi kemudian menundanya dengan harapan bisa mempertahankan negosiasi.

Trump mengatakan kepada wartawan pada Minggu bahwa utusan khusus Steve Witkoff akan pergi ke Rusia pekan ini—Rabu atau Kamis—untuk berdiskusi lebih lanjut.

Ketegangan antara Washington dan Moskow meningkat pekan lalu saat Trump mengatakan telah memindahkan dua kapal selam nuklir sebagai respons atas "pernyataan yang sangat provokatif" dari mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev.

(bbn)

No more pages