“Bisa jadi memang para Rojali ini sebenarnya juga sedang showrooming, jadi jalan-jalan sambil bersosialisasi, sembari melihat kondisi fisik barang yang mau dibeli, seperti cek ukuran, kecocokan model saat dipakai, dan sejenisnya, baru kemudian check-out lewat loka pasar,” ujarnya.
Meski tidak belanja barang, kata dia, transaksi sektor FnB justru menunjukkan peningkatan karena masyarakat hanya nongkrong di mal namun sebenarnya tetap mengonsumsi, hanya berbeda produknya saja.
Omnichannel Kunci Adaptasi
Dia menjelaskan saat ini banyak pelaku usaha ritel telah menerapkan strategi omnichannel.
Omnichannel sendiri merupakan strategi marketing yang mengacu pada kehadiran perusahaan di berbagai saluran sambil memastikan pelanggan mendapat pengalaman yang positif. Saluran yang dimaksud bisa mencakup saluran online dan offline, seperti website, aplikasi, media sosial, em-mail, maupun store offline.
“Pedagang itu sekarang menjual barangnya tidak hanya secara fisik di toko. Mereka juga live di channel seperti TikTok atau tergabung dalam platform-platform digital,” jelas Iqbal.
Dengan cara ini, pembeli bisa melihat barang secara online, bahkan memesan tanpa harus datang langsung. Hal ini juga yang membuat transaksi di pusat perbelanjaan tetap berjalan meskipun traffic pengunjung fisik menurun di beberapa tempat.
Dia menyontohkan salah satu pusat belanja yakni ITC Mangga Dua dan Thamrin City yang kini mulai menyesuaikan diri. Tempat tersebut tidak hanya menjadi tempat belanja dan tempat makan, namun menjadi area bermain.
“Kemudian area-area leisure lain yang tujuannya adalah untuk traffic. Traffic ini penting. Kalau ada kafe-kafe, dia pasti spending di situ. Walaupun nongkrongnya 2 jam, yang penting ada pengeluaran,” imbuhnya.
Iqbal menegaskan indikator utama keberhasilan ritel bukan semata traffic, tapi transaksi. Menurutnya,sebanyak 60%-70% para pedagang di Thamrin City saat ini
sudah menggunakan omnichannel dalam memasarkan produknya.
Bahkan menurut pengelola Thamrin City, lanjutnya, pelaku usaha di sana tetap menerima pesanan dari berbagai daerah meski pembeli tidak lagi datang langsung.
“Dulunya orang dari Bangka atau Bukittinggi datang langsung. Sekarang mereka bisa lihat live. Transaksi tetap jalan,” ungkap Iqbal.
Iqbal juga menyampaikan perhatian utama Kemendag bukan pada ramai atau tidaknya pengunjung di pusat perbelanjaan melainkan apakah pedagang tetap bisa menikmati transaksi dan pendapatan.
“Kalau masalah traffic itu bukan berarti tidak penting, tapi bukan menjadi perhatian utama. Yang menjadi perhatian utama kita itu transaksi yang dinikmati oleh pedagang,” imbuhnya.
Sebelumnya, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) membeberkan omzet mal bakal merosot dibandingkan tahun lalu imbas maraknya fenomena Rojali seiring melemahnya daya beli masyarakat.
“Pasti [mengurangi omzet],” kata Alphonzus saat ditemui di Pusat Grosir Cililitan (PGC) Jakarta, Rabu (23/7/2025).
Dia menyebut pertumbuhan industri pusat belanja tahun ini kurang dari 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara APPBI menargetkan sebanyak 20%-30% di tahun ini.
“Kenaikan trafik hanya 10%. Sebetulnya target kita kan 20%-30% kenaikannya dibandingkan dengan tahun lalu,” ujarnya.
Alphonzus menjelaskan sejatinya fenomena Rojali bukan bukan hal yang baru karena sebelumnya sudah pernah terjadi. Hanya saja intensitas jumlahnya semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Menurutnya, hal itu disebabkan karena daya beli masyarakat yang semakin berkurang karena kondisi ekonomi.
Bagi kelas menengah ke bawah menjadi lebih selektif dalam berbelanja dengan membeli produk dengan harga satuan.
“Berbelanja kalau tidak perlu, tidak belanja, kemudian kalaupun belanja beli barang produk yang harga satuan yang unit harganya murah itu yang terjadi,” tuturnya.
Sementara itu, bagi kelas menengah ke atas akan lebih hati-hati dalam membelanjakan uangnya, mereka disebut lebih memilih untuk berinvestasi.
(ell)






























